Thursday, April 19, 2007

Mantan

Seorang mantan tiba-tiba kembali dekat dengan saya akhir-akhir ini. Entah kenapa, tiba-tiba jadi sering menelpon, membagi hidup, meminta saran, juga mengobrol dengan intens. Hal-hal yang dulu jarang saya lakukan dengan dia karena kami terpisah ribuan mil, kami berbeda negara. Saya yang ada di Indonesia dan dia yang belajar di Jerman. Komunikasi kami yang sangat terbatas toh akhirnya tidak membuat kami bertahan.

Saat ini, dirinya pun sudah kembali ke Indonesia. Walau masih juga dipisahkan laut, namun yang pasti, menelpon dia memakai pulsa lokal, bukan international. Menghubungi kembali juga kemudian menjadi pilihan. Bukan berarti kembali lagi pacaran seperti dulu, namun hanya hubungan pertemanan murni. Setidaknya begitulah pilihan saya.

Dalam laut dapat ditebak, dalam hati siapa tahu. Pepatah itu benar adanya. Memang kita tidak pernah tahu bagaimana hati orang, apa yang dia benar-benar rasakan. Kita hanya bisa mereka-reka saja, atau berasumsi. Toh ternyata, saya masih menggoda (maaf ya narsis). Percakapan-percakapan panjang yang kami lakukan, setidaknya membuat dia tersadar bahwa dia telah menyia-nyiakan suatu kesempatan berharga yang memang tidak pernah datang dua kali. Saya tidak bisa menjawab keinginannya untuk mencipta waktu bersama-sama, karena saya sedang berhubungan dengan seorang pria yang sangat mengagumkan. Misalnya toh, tak ada laki-laki itu, bisa jadi, saya pun tidak akan memilih untuk kembali lagi.

Tapi saya tidak menyangkal. Saat ini, kami benar-benar memanfaatkan waktu untuk kembali saling mengenal. Hanya itu. Saya juga sangat tidak mengenal dia. Maka, saya pikir, ini juga bisa dijadikan saat yang tepat untuk berteman dengannya dan mulai mengenalnya lagi sedikit demi sedikit.

Kita memang tidak pernah tahu, kesempatan apa yang kita lewatkan. Memang, kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali dan tidak semua kesempatan memang harus diambil, kecuali kalau Anda kemaruk. Mantan saya, tampaknya, menyadari bahwa mestinya dia tidak menyudahi hubungan itu dulu sebelum dia berpikir matang kesempatan apa yang akan dia sia-siakan. Sayangnya, semua sudah hilang dari depan matanya.

Maka berhati-hatilah. Seringkali manusia sadar bahwa dia menyayangi sesuatu, ketika sesuatu tersebut telah hilang. Semoga kita tidak perlu kehilangan terlebih dahulu untuk menyadari bahwa saya mencintai seseorang atau sesuatu.

Wallahualam bi shawab

Monday, February 19, 2007

Merasa sendiri

Saya seringkali takut merasa sendirian. Saya tidak takut sendiri, tapi merasa sendirian bagi saya bukan hal yang menyenangkan. Padahal, saya selalu menganggap saya mandiri, saya bisa melakukan hal-hal sendiri. Namun, tetap saja, bila perasaan itu datang, saya tidak tahu mau sembunyi dimana.

Mungkin bukan sembunyi, tapi bagaimana mengatasinya. Hari ini, saya sedang sakit. Sudah dua hari tepatnya, flu berat ditambah batuk membuat demam datang. Akhirnya, tinggal di rumah menjadi satu-satunya pilihan. Saat ini, ada konser Ungu dan Samson, sebuah perpaduan yang menarik di kota kecil Banda Aceh ini. Pacar saya kebetulan juga sedang sibuk, maka laptop, radio di handphone, dvd dan buku menjadi teman baik saya.

Saya pikir, tidak ada orang yang suka sendiri. Konon, manusia diciptakan Tuhan berpasangan, ditambah, manusia ternyata adalah makhluk sosial. Dia tidak bisa hidup sendiri, dia pasti tergantung kepada orang lain untuk terus menjaganya tetap hidup. Entah dia sadari atau tidak.

Semakin tua, saya menyadari bahwa teman-teman saya semakin menghilang. Mereka memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri; dan kadang, kita bahkan tidak pernah bertemu lagi. Bukan sombong, tapi saya pikir itulah mengapa dinamakan dunia, karena tidak pernah ada yang abadi. Baik itu pertemanan dekat atau relasi seperti hubungan orang tua dengan anak sekalipun. Manusia dilahirkan sendiri, menghadap Tuhan pun sendiri.

Beberapa teman yang masih tersisa biasanya memang karena sudah sekian lama berteman. Tetap saja bertukar cerita, walau mungkin telah terpisah jauh. Namun, tetap saja, kadang rasa sendiri itu tetap ada.

Saya, sekali lagi, masih mencari cara yang paling efektif, untuk mengatasi rasa sendiri ini. Menjadi dewasa memang tidak menyenangkan, namun, sayangnya tidak bisa saya hindari. Hm, semoga saya cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi. Dan semoga, tidak melulu merasa sendirian.

Feb 18, 2007 19:05

Virginitas

Hehehe, pasti beberapa dari yang membaca judulnya pun sudah tertawa, karena hal ini memang tidak ada habisnya menjadi sorotan. Yep, mengobrolkan hal yang satu ini memang sangat menarik, karena tidak pernah ada definisi baku mengenai hal yang konon diagung-agungkan masyarakat multi zaman.

Baru saja, saya berkirim pesan singkat dengan teman saya, yang kebetulan laki-laki. Dan lucunya membahas soal ini :-)

Virginitas biasanya dikait-kaitkan dengan perempuan. Banyak orang yang menilai, virgin berhubungan dengan kesucian. Misalnya saja di Indonesia, laki-laki yang masih perjaka ataupun tidak seringkali masih mematok perempuan yang akan dinikahinya dari virgin ini. Dan tidak sedikit orang yang memasang standar perempuan “baik-baik” hanya dari sini. Misalkan saja, perempuan yang punya pekerjaan layak, gaji tinggi, terlihat mandiri dan chick, dapat tercoreng citranya hanya karena dia tadi lagi perawan. Hm, saya berpikir, betapa hebatnya selaput dara perempuan mengkontruksi sistem nilai di masyarakat

Ketika saya belum sebesar yang sekarang (yah minimal 27 tidak bisa dibilang anak kecil :-)), saya juga terjebak dalam kungkungan berpikir, bahwa yang namanya virgin, yah selaput dara itu. Bila dia pecah atau rusak sebelum waktu pernikahan, maka “harga” perempuan menjadi turun. Padahal, seringkali selaput dara pecah atau rusak bukan akibat penetrasi penis, tapi akibat hal lain, misalnya cedera karena jatuh atau trauma benda keras. Dan saya pikir, apa sih selaput dara itu sehingga harga perempuan kebanyakan ditakar dari situ?

Banyak laki-laki yang masih “tergila-gila” dengan keperawanan yang notabene hanya selaput dara tadi. Padahal, saya pikir, keperawanan itu mestinya diukur dari hati dan pikiran perempuan tadi, sudah sejauh mana dia mengerti dunia. Bukan dari selaput daranya saja, yang bisa menyebabkan hidupnya hancur kalau dia rusak atau pecah sebelum waktunya.

Belum lagi, kalau perempuan menikah dengan laki-laki yang entah bodoh atau lugu menganggap bahwa pecah atau tidaknya selaput dara dinilai apakah dia berdarah ketika pertama kali berhubungan. Kalau masih ingat kasus Farid Harja yang menceraikan isterinya setelah hari pernikahannya karena mendapati isterinya tidak perawan, padahal apakah Farid Harja masih perjaka ketika itu? Wallahu alam (sayang dia sudah wafat jadi tidak bisa kita cari tahu J). Padahal, berdarah atau tidaknya tergantung apakah penis melukai pembuluh darah vagina/selaput dara atau tidak. Bila tidak, maka sampai sekuat apapun berusaha, sang perempuan tidak akan berdarah.

Saya masih heran saja, di hari seperti ini, di saat semakin modern-nya pemikiran manusia, masih banyak orang yang mengagung-agungkan virginitas alih-alih melihat kelebihan lain dari perempuan itu. Misalnya saja, bagaimana kadar intelektualitasnya, kecerdasannya dalam hubungan antarmanusia, amal yang telah dia lakukan, atau apapun yang jauh lebih kongkrit dan bermakna hanya dari sekedar perempuan itu virgin atau tidak.

Saya pikir, agak sulit kalau ingin menilai mental seseorang hari gini. Orang yang rajin solat dan pergi ke gereja pun masih tega korupsi dan mengobarkan perang saudara di Poso.

Saya lebih baik main aman saja, saya tidak mau jadi korban sistem yang seperti ini. Semoga saja, kekasih saya masih mau menikahi saya even saya tidak perawan sekalipun, amin. Kalaupun tidak, saya pikir, saya pasti belum menemukan orang yang tepat, yang mau menikahi saya karena saya, bukan karena selaput dara di dalam vagina sana. Tabik.

17Feb2007/9:52 pm after Luke’s last sms

Karena sudah kelamaan sendiri dan kemudian berdua

Baru saja, saya bertemu dengan seorang teman perempuan, yang menjenguk datang menjenguk karena saya sedang sakit. Memang sangat enak berteman dengan perempuan, karena mereka cenderung lebih peka akan hal-hal. Namun, saya tidak mengatakan bahwa tidak enak berteman dengan lawan jenis J

Teman perempuan saya ini bercerita bahwa dia sedang dekat dengan seorang pria. Lebih tepatnya, pria ini berkehendak ingin terus dekat dengan teman saya ini. Tampaknya, pria ini sedang PDKT (baca: pendekatan). Teman saya ini bilang, bahwa dia senang-senang saja didekati laki-laki. Ah siapa juga perempuan yang tidak suka bisa disuki laki-laki. Bahkan, jika kita perempuan tidak suka dengan laki-laki yang mendekati itu, tetap saja jauh di lubuk hatinya, perasaan keperempuanannya pasti senang. Anugrah Tuhan bukan, ketika ada orang yang menyukai kita?

Teman saya ini sudah agak lama sendiri, menjomblo lah bahasa gaulnya. Sejak pindah ke negeri tanah rencong ini, dia memang belum lagi menjalin hubungan dengan laki-laki. Ketika ada seorang pria yang mendekatinya, dia pun belum lagi terbiasa. Ketika kemarin berbelanja membeli buah untuk saya, lelaki itu berbaik hati ingin membawakan buah yang dibeli teman saya. Tapi teman saya ini menolak. Beberapa kali. Sampai akhirnya, pria ini berkata, kamu tidak butuh laki-laki ya. Teman saya mengulum senyum dan berkata, ah, saya biasa mengerjakan apa-apa sendiri.

Teman saya berpikir, sudah nyaman sendiri, merdeka dan punya uang sendiri. Dan bisa jadi, saat ini dia tidak butuh laki-laki. Memang sulit membiasakan lagi bersama dengan lawan jenis apalagi bila sudah biasa apa-apa sendiri. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Sudah setahun saya menjalin hubungan dengan laki-laki itu, yang saya juga tidak menyangka bisa berjalan selama ini. Berjalan di masa-masa sulit karena keduanya sudah sangat merdeka dan mandiri, dan sekarang harus belajar untuk saling tergantung. Bukan tergantung yang tidak sehat tentu saja, tapi ketergantungan dua orang yang sama-sama independen. Kata Stephen R. Covey, seorang ahli sumber daya manusia, ketergantungan dua orang yang idependen bernama interdependensi. Bersinergi berdua untuk kemajuan yang lebih baik. Seperti prinsip saya, sendiri harus baik, berdua harus lebih baik. Bila berdua tidak lebih baik, maka sendiri saja. Karena saya pikir, kalau kita sendiri belum baik, bagaimana bisa baik bersama orang lain.

Namun, saya beruntung. Saya dulu pernah terjebak bahwa saya tidak akan butuh laki-laki, karena saya seringkali gagal menjalin hubungan. Namun, ketika dalam perjalanan hidup saya, saya bertemu denga pria yang luar biasa, yang saya pikir, dia sama-sama menuju kemerdekaanya sebagai manusia. Dan saya pikir, dia bisa saya percaya.

Tidak mudah di kala awal, bahkan masih tidak mudah di saat saya mengetik tulisan ini. Kami sama-sama harus membiasakan diri bahwa sekarang kami berhubungan. Misalnya saja, sekarang ini kami belajar untuk sama-sama berkomunikasi setiap hari, sekedar menceritakan apa yang kami lalui. Kami juga belajar untuk menginformasikan keberadaan kami. Memang tidak sampai segitunya, tapi memang sekarang ini saya punya kekhawatiran lebih bila dia tidak mengkontak saya seharian. Yah, apakah itu resiko sebuah hubungan? Bisa jadi iya.

Yang jelas, kami masih sama-sama belajar untuk saling mengenal. Dan bila surga memang berpihak pada kami, bisa jadi kami akan terus bersinergi. Amin.


17 Februari 2007

Wednesday, February 14, 2007

The forces of nature

8 Februari 2007

Nature, to be commanded, must be obeyed.
(Alam, untuk diperintah, harus ditaati)
Francis Bacon


Sebuah opini di Kompas, 6 Februari 2007 milik YF La Kahija (Merefleksikan Alam di Kala Bencana) yang memuat kutipan di atas membuat saya terhenyak. Ternyata untuk bekerja sama dengan alam, kita harus mentaati hukumnya. Melanggar hukum alam, berarti memusuhinya. Memusuhinya, berarti bunuh diri, karena manusia jelas-jelas bergantung kepada alam untuk dapat bertahan hidup.


Mari bicara dalam konteks Indonesia saja. Alam memang tampak sedang mengamuk. Sejak Desember 2004, alam tampaknya belum “jinak” juga sampai sekarang. Bencana seakan tidak berhenti. Yang berhasil saya ingat adalah tsunami yang menghantam Aceh 26 Desember 2004. Dilanjutkan gempa bumi yang menguncang Nias. Lalu tsunami Pangandaran, gempa bumi yang meluluhlantakkan Yogyakarta, lumpur Lapindo Brantas, longsor di Mandailing Natal, dan banjir di Tamiang, Aceh Tengah. Yang terakhir adalah banjir yang sedang terjadi di beberapa daerah Indonesia, termasuk ibukota.

Indonesia adalah area yang rawan bencana, akibat letaknya yang konon “strategis” di antara dua benua (Asia dan Australia), dua samudra (Hindia dan Pasifik) dan juga dua lempeng bumi yang sangat aktif. Seringkali, kita terbuati dengan kata strategis, tanpa tahu lebih lanjut apa akibat dari lokasi ini, terutama untuk alam. Pelajaran geografi tidak pernah mendapat tempat yang layak di jenjang-jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. Mungkin bisa dibuktikan ke anak-anak SD sekarang ini, seberapa seringnya mereka belajar geografi yang bukan hanya menghafal nama-nama gunung di Indonesia.

Selain minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia, kesadaran yang rendah untuk hidup bersama-sama alam juga masih sangat rendah. Jakarta misalnya, yang setiap tahun selalu langganan banjir dan setiap lima tahun hampir selalu kena banjir bandang. Lihatlah mereka yang memilih daerah aliran sungai (DAS) untuk tempat tinggal. Mereka membangun rumah-rumah seadanya, menempati aliran sungai yang seyogyanya harus bebas mengalir. Orang-orang juga seringkali masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Alih-alih membangun gorong-gorong dan drainase yang memadai, juga taman-taman kota untuk penyerapan air, Pemda Jakarta tampaknya lebih senang membangun sarana&prasarana di atas tanah seperti mal (perlu diketahui: pada zaman Sutiyoso, pembangunan mal mencapai 20 kali lipat dibanding pada masa gubernur sebelumnya), gedung perkantoran, busway, real-estate, dan yang paling baru, monoreal. Izin pembangunan sangat mudah diberikan, padahal, tanpa draisnase yang memadai, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Belum lagi soal sampah, masyarakat Jakarta belum mengenal pemisahan sampah organik dan an-organik, juga pengolahannya yang efektif. Padahal di Austria sana, sampah diolah menjadi sumber pembangkit listrik. Saya yakin, hal ini bisa saja dilakukan di Indonesia.

Hal di atas adalah hanya sekelumit contoh ketidakmauan msyarkat untuk belajar memahami alam. Alam pasti memberi banyak, bila manusia belajar bagaimana mematuhinya. Bila manusia tidak mau belajar, kehancuran alam pasti akan semakin cepat.

Para penumpang pesawat terbang


Belum lama ini, saya kembali ke Jakarta dari Banda Aceh menggunakan sebuah maskapai penerbangan nasional. Maskapai nasional yang selama ini masih digunakan karena tidak ada piihan lain yang relatif aman dan baik pelayanannya. Bukan berita baru, bahwa banyak maskapai di Indonesia yang kurang baik keamanan dan pelayanannya.

Saya melihat perilaku-perilaku penumpang pesawat yang cenderung terburu-terburu. Seakan-akan, mereka bahkan tidak punya waktu untuk menghela nafas. Saya tidak membesar-besarkan. Misalkan saja, masuk ke dalam pesawat, seringkali saya melihat orang berebutan masuk; padahal pesawat masih butuh proses untuk memanaskan mesin dan bersiap-siap tinggal landas. Di dalam pesawat, seakan-akan para penumpang takut tempat duduknya terisi oleh yang lain, maka seringkali mereka tidak mau menunggu penumpang di depannya yang sedang bersusah payah memasukkan bagasinya ke tempat penyimpanan di atas tempat duduk. Padahal, tetap saja, tidak sampai memakan waktu dua menit. Alih-alih ngedumel, toh sebenarnya mereka bisa saja membantu.

Setelah itu, orang-orang yang tahu bahwa barang-barang elektronik seperti handphone akan mengganggu persiapan penerbangan, mereka akan segera mematikan handphone. Yang kurang sadar, masih menekan tuts-tutsnya untuk membalas sms atau melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Mereka baru akan mematikan alat-alat tersebut, setelah pramugari mengingatkan bahwa mereka akan segera lepas landas. Saya yakin, pasti ada beberapa orang yang lupa mematikan telepon genggamnya. Padahal, sinyal-sinyal telepon genggam dapat membahayakan penerbangan.

Maka, lepas landaslah. Pada waktu-waktu ini, tidak terlihat perilaku orang-orang yang terburu-buru, toh pada saat ini kita hanya bisa menunggu pesawat sampai di tempat tujuan. Orang-orang biasanya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, mengobrol, ataupun membaca buku.

Ketika pesawat baru saja menyentuh tanah, banyak orang yang serta merta membuka sabuk pengaman. Sudah ada aba-aba dari awak pesawat bahwa sabuk pengaman hendaknya baru dibuka setelah pesawat diparkir dengan sempurna, karena pada saat-saat inilah, sama seperti saat lepas landas, kondisinya sangat kritis. Tidak jarang, ada kasus pesawat tergelincir ketika akan parkir setelah mendarat.

Pada penerbangan ini, saya juga melihat perilaku orang yang sangat tergesa-gesa. Dia berdiri dan akan mengambil barang, padahal pesawat belum berhenti. Toh, kalau pesawat tidak berhenti, dia pun tidak bisa turun. Setelah pesawat berhenti, orang-orang dengan tergesa-gesa berdiri, berebutan mengambil bagasi, dan lekas-lekas turun.

Manusia memang makhluk yang suka tergesa-gesa. Dan menunggu memang tidak menyenangkan. Namun, bukanlah kadang kita harus menghargai waktu dengan berusaha menikmatinya? Hanya beda beberapa detik saja, toh pesawat tidak akan pergi kalau memang belum siap dan penumpang tidak bisa turun bila pesawat belum berhenti. Saya hanya tersenyum heran, karena baru saja kepala saya terantuk barang milik orang yang dengan ceroboh mengambil barangnya dari atas tempat duduk saya. Tanpa mengucapkan maaf, lalu ngacir saja.

Setergesa-tergesa itukah? Entahlah. Saya pun tidak habis pikir kenapa orang-orang tidak berusaha tenang dan santai bila naik pesawat. Apalagi, kalau perilku tersebut seringkali merugikan dan membahayakan penumpang yang lain. Karena saya tidak suka berebutan, maka seringkali saya merpersilakan orang-orang untuk duluan saja naik pesawat. Toh, saya masih berusaha menikmati waktu.

7 Februari 2007

Sunday, February 11, 2007

Shut your mobile down while you’re in the craft

Mungkin banyak orang yang belum mengamini kenapa mereka harus mematikan telepon genggamnya dan sama sekali tidak boleh dinyalakan selama berada di dalam kabin pesawat terbang.

Pesawat terbang modern sangat bergantung kepada gelombang radio untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk komunikasi dengan menara kontrol, navigasi dan pengaturan udara di dalam kabin. Intervensi gelombang rdio yang berasal dari telepon genggam dapat mengacaukan fungsi-fungsi ini.

Pemakai telepon genggam mungkin tidak menyadari, bahwa dalam keadaan standby pun, telepon genggam tetap memancarkan sinyal elektromagnetis yang berfungsi memberitahu komputer di jaringan telepon selulernya bahwa telepon genggam tersebut di dalam keadaan aktif dan dapat dihubungi. Sinyal tersebut kan sekin kuat ketika pemancar di base terminal station (BTS) berkomunikasi dengan telepon genggam untuk menyampaikan panggilan ataupun mengirimkan pesan singkat (SMS).

Padahal, setelah pesawat tinggal landas dan mendekati cruising altitute, telepon genggam tidak akan dapat berfungsi karen jarak dari BTS ke pesawat terlalu jauh. Pesawat juga bergerak terlalu cepat sehingga sebelum telepon genggam terdeteksi dan terdaftar di salah satu sel jaringan telepon genggam ia sudah meninggalkan sel tersebut. Akibatnya, telepon genggam yang terus aktif akan terus-menerus memancarkan sinyal elektromagnetis yang beresiko mengganggu berbagai peralatan penerbangan.

Oleh karena itu, demi keselamatan Anda dan ratusan penumpang lainnya, Anda wajib menyimpan telepon genggam Anda begitu memasuki pintu kabin. Bila Anda menyimpan telepon genggam lain di dalam tas bawaan, periksalah dan pastikanlah bahwa telepon genggam tersebut juga sudah Anda matikan. Anda tidak mau mati konyol hanya karena lupa mematikn telepon genggam Anda bukan?

Disadur bebas dari In Flight Magazine Garuda Indonesia edisi Februari.

Saturday, December 16, 2006

Awas Ya!!

Kekasihku,
Kau tidak akan kubiarkan sendiri
Ragaku bisa mati ketika tiba umurku
Fisikku pasti membusuk seiring tuaku
Tapi jiwaku abadi
Doaku tulus dan mumpuni

Maka,
kenapa kau harus tunggu selesai sesalmu
Baru kau datang padaku
kenapa harus kau usir rasa marahmu
Baru kau bersender di bahuku
Kenapa perlu kau manjakan sakit hatimu
Baru kau peluk aku

Padahal,
kau kan sudah tahu
Cintaku bukan cinta biasa
Cintaku tidak sederhana
Cintaku cinta keras kepala!!

Ah,
entahlah
Aku merasa dunia membelakangiku
Dan aku tidak mau kau ikut serta
Awas ya!

c)RDS, 161206 Banda Aceh
for better or worse

Tuesday, September 19, 2006

Curiousity kills the cat

Keingintahuan! Tampaknya manusia memang dilahirkan Tuhan dengan fitrah itu. Sembilan bulan sepuluh hari, manusia bayi berada di perut ibunda dengan tempat yang gelap dan sempit. Ketika lahir, dunia gemerlap tentu saja menyimpan banyak misteri yang menarik untuk dicari tahu apa itu. Tentu saja, keingintahuan membuat kita mampu mencari tahun seperti apa dunia ini.
Maka..
manusia yang diberi kelebihan dari makhluk-makhluk Tuhan lain berupa akal berlomba-lomba mencari tahu seperti apa dunia itu. Lewat pemikiran-pemikiran, lahirlah penemuan-penemuan luar biasa, seperti listrik, lampu, telepon, mesin uap, dan lain sebagainya yang membantu peradaban manusia. Ilmu-ilmu pengetahuan juga muncul satu demi satu, ilmu kedokteran, ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu astronomi dan lain sebagainya. Terus berkembang sampai sekarang ini dimana dunia sudah sangat modern dan semakin tanpa batas.
Ilmu dan penemuan adalah tingkat tertinggi dari rasa keingintahuan manusia akan fenomena-fenomena yang ada di dunia. Bahkan Al-Quran di dalam satu suratnya menyatakan, bahwa dunia ini penuh dengan tanda-tanda kebesaranNya bagi orang-orang yang berpikir.
Yang paling rendah dari keingintahuan manusia adalah gosip. Sekarang ini, televisi di Indonesia mempunyai lebih dari 50 tayangan infotainment yang ditayangkan setiap hari. Lagi dan lagi, kita diterpa oleh tayangan itu lebih dari 10 kali setiap hari. Kita jadi tahu dan hafal apa yang terjadi dengan para public figure, dan tampaknya kita tersihir untuk terus mengikuti perkembangannya. Infotainment disinyalir juga menjadi kompor bagi beberapa kasus yang terjadi. Bahkan tak jarang, gosip memang diciptakan. Biar seru, katanya :D
Apapun itu,
rasa ingin tahu memang ada di dalam diri kita. Kadang dia bisa menjadi kebaikan, namun kadang bisa menjadi bumerang bagi yang ingin tahu. So, be ready, because curiousity kills the cat..

Wednesday, September 13, 2006

God's chosen people

sebuah tulisan Jostein Gaarder, Aftenposten 05.08.06

There is no turning back. It is time to learn a new lesson: We do no longer recognize the state of Israel. We could not recognize the South African apartheid regime, nor did we recognize the Afghan Taliban regime. Then there were many who did not recognize Saddam Hussein's Iraq or the Serbs' ethnic cleansing. We must now get used to the idea: The state of Israel in its current form is history. We do not believe in the notion of God's chosen people. We laugh at this people's fancies and weep over its misdeeds. To act as God's chosen people is not only stupid and arrogant, but a crime against humanity. We call it racism.

Limits to tolerance
There are limits to our patience, and there are limits to our tolerance. We do not believe in divine promises as justification for occupation and apartheid. We have left the Middle Ages behind. We laugh uneasily at those who still believe that the God of flora, fauna, and galaxies has selected one people in particular as his favorite and given it funny stone tablets, burning bushes, and a license to kill.
We call child murderers 'child murderers' and will never accept that such have a divine or historic mandate excusing their outrages. We say but this: Shame on all apartheid, shame on ethnic cleansing, shame on every terrorist strike against civilians, be it carried out by Hamas, Hizballah, or the state of Israel!

Unscrupulous art of war
We acknowledge and pay heed to Europe's deep responsibility for the plight of the Jews, for the disgraceful harassment, the pogroms, and the Holocaust. It was historically and morally necessary for Jews to get their own home. However, the state of Israel, with its unscrupulous art of war and its disgusting weapons, has massacred its own legitimacy. It has systematically flouted International Law, international conventions, and countless UN resolutions, and it can no longer expect protection from same. It has carpet bombed the recognition of the world. But fear not! The time of trouble shall soon be over. The state of Israel has seen its Soweto. We are now at the watershed. There is no turning back. The state of Israel has raped the recognition of the world and shall have no peace until it lays down its arms.

Without defense, without skin
May spirit and word sweep away the apartheid walls of Israel. The state of Israel does not exist. It is now without defense, without skin. May the world therefore have mercy on the civilian population. For it is not civilian individuals at whom our doomsaying is directed. We wish the people of Israel well, nothing but well, but we reserve the right not to eat Jaffa oranges as long as they taste foul and are poisonous. It was endurable to live some years without the blue grapes of apartheid.

They celebrate their triumphs
We do not believe that Israel mourns forty killed Lebanese children more than it for over three thousand years has lamented forty years in the desert. We note that many Israelis celebrate such triumphs like they once cheered the scourges of the Lord as "fitting punishment" for the people of Egypt. (In that tale, the Lord, God of Israel, appears as an insatiable sadist.) We query whether most Israelis think that one Israeli life is worth more than forty Palestinian or Lebanese lives.
For we have seen pictures of little Israeli girls writing hateful greetings on the bombs to be dropped on the civilian population of Lebanon and Palestine. Little Israeli girls are not cute when they strut with glee at death and torment across the fronts.

The retribution of blood vengeance
We do not recognize the rhetoric of the state of Israel. We do not recognize the spiral of retribution of the blood vengeance with "an eye for an eye and a tooth for a tooth." We do not recognize the principle of one or a thousand Arab eyes for one Israeli eye. We do not recognize collective punishment or population-wide diets as political weapons. Two thousand years have passed since a Jewish rabbi criticized the ancient doctrine of "an eye for an eye and a tooth for a tooth."
He said: "Do to others as you would have them do to you." We do not recognize a state founded on antihumanistic principles and on the ruins of an archaic national and war religion. Or as Albert Schweitzer expressed it: "Humanitarianism consists in never sacrificing a human being to a purpose."

Compassion and forgiveness
We do not recognize the old Kingdom of David as a model for the 21st century map of the Middle East. The Jewish rabbi claimed two thousand years ago that the Kingdom of God is not a martial restoration of the Kingdom of David, but that the Kingdom of God is within us and among us. The Kingdom of God is compassion and forgiveness. Two thousand years have passed since the Jewish rabbi disarmed and humanized the old rhetoric of war. Even in his time, the first Zionist terrorists were operating.

Israel does not listen
For two thousand years, we have rehearsed the syllabus of humanism, but Israel does not listen. It was not the Pharisee that helped the man who lay by the wayside, having fallen prey to robbers. It was a Samaritan; today we would say, a Palestinian. For we are human first of all -- then Christian, Muslim, or Jewish. Or as the Jewish rabbi said: "And if you greet your brethren only, what do you do more than others?" We do not accept the abduction of soldiers. But nor do we accept the deportation of whole populations or the abduction of legally elected parliamentarians and government ministers. We recognize the state of Israel of 1948, but not the one of 1967. It is the state of Israel that fails to recognize, respect, or defer to the internationally lawful Israeli state of 1948. Israel wants more; more water and more villages. To obtain this, there are those who want, with God's assistance, a final solution to the Palestinian problem. The Palestinians have so many other countries, certain Israeli politicians have argued; we have only one.

The USA or the world?
Or as the highest protector of the state of Israel puts it: "May God continue to bless America." A little child took note of that. She turned to her mother, saying: "Why does the President always end his speeches with 'God bless America'? Why not, 'God bless the world'?" Then there was a Norwegian poet who let out this childlike sigh of the heart: "Why doth Humanity so slowly progress?" It was he that wrote so beautifully of the Jew and the Jewess. But he rejected the notion of God's chosen people. He personally liked to call himself a Muhammedan.

Calm and mercy
We do not recognize the state of Israel. Not today, not as of this writing, not in the hour of grief and wrath. If the entire Israeli nation should fall to its own devices and parts of the population have to flee the occupied areas into another diaspora, then we say: May the surroundings stay calm and show them mercy. It is forever a crime without mitigation to lay hand on refugees and stateless people. Peace and free passage for the evacuating civilian population no longer protected by a state. Fire not at the fugitives! Take not aim at them! They are vulnerable now like snails without shells, vulnerable like slow caravans of Palestinian and Lebanese refugees, defenseless like women and children and the old in Qana, Gaza, Sabra, and Chatilla. Give the Israeli refugees shelter, give them milk and honey! Let not one Israeli child be deprived of life. Far too many children and civilians have already been murdered.

Thursday, August 31, 2006

sebuah doa..

Tuhan,
berilah aku kesempatan untuk belajar melalui cintaku,
karena cinta tak pernah membuat seseorang meninggalkan mimpi-mimpinya.

Biarlah aku
menjadi pendamping dan sekutu
laki-laki yang kucintai ini..

Biarlah kami
mencapai semua yang harus kami capai
bersama-sama..

amin..

dari By the River I Sat Down and Weapt
Paolo Coelhoe

Tuesday, August 29, 2006

Gunung Jangan Pula Meletus

sebuah tulisan Emha Ainun Najib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barangsiapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraanpara korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!, " aku menyerbu."Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran, " Sudrun menyambutdengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati. "Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"

"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga." "Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?" "Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."

"Termasuk Kiai...."Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran. "Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?" Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya. Aku menjawab tegas, "Ya." "Kalau Tuhan diam saja bagaimana?" "Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."

"Sampai kapan?" "Sampai kapan pun!" "Sampai mati?" "Ya!" "Kapan kamu mati?" "Gila!" "Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidakmelawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"

"Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter.... "Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku."Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban." "Kewajiban apa?" "Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun.

Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun,Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-

"Kupinjamkan dinding ini kepadamu....""Apa maksud Kiai?," aku tidak paham. "Pakailah sesukamu.""Emang untuk apa?""Misalnya untuk membenturkan kepalamu...." "Sinting!" "Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh. "Ia membawaku duduk kembali. "Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.

"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullahshallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintaiTuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya.

Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang. "Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim....""Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?" "Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."

"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi." "Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...." "Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?""Aceh, Kiai, Aceh.""Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehinggaakan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".

"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.""Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu.Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidakmelayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."

"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa,sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?" "Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu merekamemperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"

"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri,Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.""Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup." "Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."

"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur." "Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?" "Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."

"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun. "Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya. "Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...." "Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Wednesday, August 09, 2006

She will be loved

brilliantly sang by Maroon5

Beauty queen of only eighteen
She had some trouble with herself
He was always there to help her
She always belonged to someone else

I drove for miles and miles
And wound up at your door
I've had you so many times
but somehow I want more

I don't mind spending everyday
Out on your corner in the pouring rain
Look for the girl with the broken smile
Ask her if she wants to stay awhile
And she will be loved
She will be loved

Tap on my window knock on my door
I want to make you feel beautiful
I know I tend to get insecure
It doesn't matter anymore
It's not always rainbows and butterflies
It's compromise that moves us along
My heart is full and my door's always open
You can come anytime you want

I don't mind spending everyday
Out on your corner in the pouring rain
Look for the girl with the broken smile
Ask her if she wants to stay a while
And she will be loved
She will be loved

I know where you hide
Alone in your car
Know all of the things that make you who you are
I know that goodbye means nothing at all
Comes back and begs me to catch her every time she falls

..may be you know why I called this song, a soundtrack of the days..

ketika aku jatuh cinta

Saya berpikir, saya tidak mungkin lagi jatuh cinta. Setelah patah hati berkali-kali, saya pun takjub ternyata saya belum hancur juga. Hm, ternyata saya masih baik-baik saja, bisa melanjutkan hidup dan merasa bahagia dengan keadaan yang ada. Yap, bukan saya tidak perlu laki-laki, tapi saya pikir, saya harus bahagia menjadi perempuan yang merdeka. Ketika saya bisa mandiri secara pemikiran, secara perasaan dan juga secara finansial.

Saya pernah berdoa pada Tuhan. Waktu itu saya pernah berkata bahwa kalaupun tidak ada laki-laki baik yang disisakan untuk saya, saya tidak apa-apa. Saya hanya minta diberi kesehatan yang layak dan uang yang banyak sehingga saya bisa hidup makmur sendiri. Dan sayapun menjalani hari-hari dengan sangat bahagia, saya berprestasi, banyak teman dan terus produktif.

Tapi ternyata, Tuhan berkata lain. Di perjalanan hidup saya berikutnya, saya ternyata bertemu dengan laki-laki yang bisa membuat saya merasa cinta lagi. Tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi saya sedang menikmati rasa-rasa itu.

Ternyata, toh Tuhan tahu kapan waktu-waktunya. Dan ternyata saya harus bertemu dulu dengan belasan orang-orang yang akan membuat saya patah hati sebelum saya bertemu dengan dia.

Akhirnya bagi saya, perempuan harus bisa menikmati hidupnya sendiri dengan bahagia.

Saturday, July 29, 2006

Stopping by Woods on a snowy evening

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

by. Robert Forst

Friday, July 28, 2006

Menikah=Lari Marathon

Kesimpulan ini didapat dari obrolan-obralan panjang saya dengan seorang kawan yang cerdas bernama Feby. Bahwa menikah bisa dianalogikan dengan lari marathon, sebuah perjalanan yang cukup panjang. Lari marathon yang berasal dari zaman Yunani kuno dulu berjarak 40 km, jarak yang agak jauh bila ditempuh dengan berlari. Sejarah lari marathon sendiri silakan dicari di google yang pintar itu saja ya :P atau akan saya tulis di kemudian hari.

Yap, menikah adalah proses yang panjang. maksud saya, bila berbicara menikah, umumnya berarti bicara soal kebersamaan dalam periode yang tidak sebentar. Seperti halnya lari marathon yang memerlukan kesiapan fisik dan mental sebelum mengikutinya, begitu pula dengan pranata bernama pernikahan. Untuk berlari, diperlukan sepatu olahraga yang nyaman, bukan stiletto yang indah. Jadi, sepatu stiletto yang bagus dan mahal sekalipun tidak akan bisa dibawa lari marathon. Bila kita sudah bisa menemukan sepatu kets yang nyaman dipakai pun ternyata kita masih harus tetap mempertimbangkan warnanya. Karena di kala berlari yang jauh, kita pasti akan melihat sepatu kita setiap saat. Warnapun harus memang yang kita suka.

Sudah beberapa kali saya menemukan perempuan menikah yang merasa salah memilih pasangan hidupnya. Mereka mungkin seperti stiletto mahal dan anggun itu, yang seringkali membuat kita jatuh cinta pada pandangan pertama, atau jatuh cinta sesaat, namun ternyata sangat menyakitkan ketika dipakai berlari. Memang kadang sulit jadi perempuan, ketika sudah tua sedikit saja pasti tidak bisa menghindar dari pertanyaan kapan nikahnya? atau ko belum nikah? Dan karena ingin menyenangkan orang tua, sudah kebelet pengen nikah atau malas dicap perawan tua, perempuan seringkali asal pilih saja. Istilahnya, seperti memilih kucing dalam karung.

Seperti halnya teman saya.. Sebentar lagi dia akan menikah. Sekilas, saya lihat dia cinta bener ama calonnya. Namun katanya, dia memilih dia karena dia memberikan kepastian dan keluarga suka sama dia. Ketika saya tanya, apakah dia nyaman dengan calonnya, tersirat ko dia mengatakan tidak sepenuhnya. Hm.. kepastian, perempuan tampaknya memang butuh itu. Banyak perempuan yang memilih pria yang tidak terlalu dicintainya tapi memberikan kepastian, daripada yang benar-benar dia cintai namun tidak memberikan kepastian. Halah..

Intinya, perempuan harus benar-benar tahu apa yang dia butuhkan dari seorang pria. Perempuan harus benar-benar bahagia dan merdeka seorang diri sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Karena pernikahan tidak menentukan bahagia tidaknya seseorang, karena pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan. Itu hanya awal dari lari marathon yang panjang dan akan menjadi amat menyakitkan jika tidak mendapat sepatu yang pas dari awalnya.

Maka, mari mencari sepatu kets nyaman yang kita suka warnanya, jangan membeli stiletto hitam mewah anggun bila ingin lari marathon.

Tabik..

Saturday, July 22, 2006

Siapakah yang disebut Israel itu?

Ciri-ciri Masyarakat Israel
Prof. Dr. Musthafa Rajab

Masyarakat Israel adalah sekelompok masyarakat yangmenyimpan banyak konflik. Mereka adalah keturunan Yahudi yang beranakpinak sangat banyak yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Karenaitu mereka memiliki ciri kebudayaan yang beragam tergantung darimanapenduduk itu berasal. Perbedaan etnis juga mereka pertahankan, baikantar Yahudi (bangsa Israel) sendiri atau dengan bangsa selain Yahudi.

Di antara ciri masyarakat Israel adalah sebagai berikut:

1. Mereka adalah percampuran masyarakat yang sangat beragam darisegi tatanan sosialnya. Artinya antar indifidu Israel mereka tidaksejenis. Karena mereka adalah percampuran dari akar keturunan,kebudayaan, kecenderungan, tradisi yang berbeda-beda. Karena itutujuan sosial mereka sangat beragam.

2. Mereka adalah masyarakat Yahudi tapi penduduk negara asliadalah Arab. Ini tatanan sosial yang lebih merumitkan.

3. Mayoritas Yahudi yang berada di Palestina bukan berasal dariakar yang sama. Mereka berbeda tergantung dari mana mereka berasalatau dari negara asal mereka. Penduduk Arab di sana adalah minoritasyang menetap di kampung halaman mereka sejak tahun 1948.

4. Yahudi Israel terdiri dari dua kelompok besar yang jumlahnyahampir sebanding. Namun status sosial mereka berbeda dalam masyarakatIsrael. tergantung asal negara dan watak pekerjaan (profesi mereka).

a. Kelompok pertama: Yahudi Barat atau lebih dikenal dengan"Esykanzim" mereka eksosdus dari negara-negara Eropa atau Amerika.kebanyakan mereka hidup di kota-kota Israel dan negara-negara teluk.Secara kebudayaan dan sosial mereka dianggap memiliki status sosialtinggi dengan menduduki jabatan dan instansi penting di pemerintahIsrael.

b. Kelompok kedua: Yahudi Timur yang terkenal dengan "Savardim"mereka eksodus ke Palestina dari negara-negara Asia dan Afrika.Kebanyakan mereka hidup di kota-kota kecil Israel, wilayah pedesaan.Dalam kehidupan keagamaan dan budaya, mereka berkembang. Di manamereka melakukan pekerjaan profesi sederhana.

Kelompok terakhir ini tidak memiliki banyak kelebihan keistimewaandibanding dengan kelompok pertama. Mereka tidak menikmati jabatanpenting di pemerintahan melainkan hanya sedikit, terutama di "kursi" Kanneset Israel.

Pada akhir tahun 1976 angka Yahudi Timur mencapai 46,2% darikeseluruhan penduduk Israel di Palestina jika dibandingkan antaragenerai eksodus yang saat itu dengan saat sebelumnya. Pemuda YahudiTimur dengan usia di bawah usia 20 jumlahnya mencapai 52,4%. Padahaleksodus Yahudi Timur ke Palestina menurun sejak tahuan 1970 dimanayang berasal Uni Soviet paling banyak. Sementara jumlah pemuda IsraelTimur mencapai 99% yang belum menginjak usia 20 tahun dan yang sudahmencapai usia balig jumlah 615.600 dan mereka dilahirkan di Israel.

Ada kelompok Yahudi lainnya yang jga hidup di Israel baik yangmemiliki asal keturunan barat atau timur. Mereka disebut dengan "JabalShabra". Generasi Israel ini adalah Yahudi yang lahir di wilayahnegara Arab Palestina. mereka berbeda dengan ayah mereka dari segiasal, etnis, tradisi, budaya, dan bahkan ideologi sekalipun.

Adapun percampuran Arab Palestina – Israel jumlahnya sangat sedikit.Mereka dilihat pejabat Israel sebagai warga negara kedua. Mereka adayang memeluk islam dan kristen.

Dari penjelasan tersebut, bisa kita katakan; masyarakat Israel hidupdalam kondisi tidak sejenis, tidak satu solidaritas. Bahkan akarperbedaan dan perpecahan sangat rentan mengancam. Para eksodus Yahudiberasal dari lebih 50 negara.

Di samping itu, ada kesenjangan sosial ekonomi antara dua kelompokYahudi "Esykanzim" dan Yahudi Syavardem bahkan perselisihan antaraYahudi yang sudah lebih dulu tinggal di Palestina dengan Yahudi yangbaru datang.

Kira-kira 40% ada Yahudi Atsubi dari Valasha yang tidak memiliki keahlian bekerja. Di tambah lagi mereka terlambat untuk memperolehtempat tinggal layak di Palestina serta keterlambatan bantuan bagimereka. Ini yang akhirnya mendoongmerekamelakukan aksi unjuk rasa.Ujungnya terjadi persengketaan sengit antar kelompok Yahudi Soviet danYahudi Valasha.

5. Ciri-ciri Ekonomi Israel:

- Ekonomi Israel adalah ekonomi kecil bentuknya, jika dibandingkandengan jumlah penduduknya. Pada laporan 1979 penduduk Israel mencapai3,8 juta. Ada akhir tahun 1980 penduduk bertambah menjadi 3,9 juta. Jumlah tersebut sebenarnya tidak cukup untuk membentuk sistem ekonomiuntuk mewujudkan proyek-proyek ekonomi yang produktif. Karenanya kaidahnya mereka pasti membutuhkan bantuan. Misalnya, bantuan untuk proyek-proyek industri lebih dari 40% dari jumlah keseluruhan nilai produksi di bidang indutri.

- Ekonomi Israel adalah ekonomi aneh di Timur Tengah. Sebab hanya 6% dari perdagangan ekspor Israel yang bekerja sama dengan negara-negaraTimur Tengah. Dan di bawah 1% dari impornya dari Iran. Sementara itu,secara beruntun terjadi peningkatan hingga 66%, 75% dalam perdagangandengan Barat Eropa dan Amerika Utara. Ini yang menyebabkan biaya ekonomi menjadi melambung.

- Secara umum dari sisi sumber alamnya, Israel termasuk negara yangmiskin, Terutama sumber SDM. Ini disebabkan oleh konsentrasi merekakepada bidang pertanian, karena terkait dengan faktor ideologi.

- Ekonomi Israel bersifat "pendudukan dan penanaman modal" ataudengan mengimpor manusia dan dana dari luar. Ini bisa kita lihat dalamdeklarasi pendirian Yahudi pada tahun 1948 yang jumlah penduduknyasaat iu kurang dari 1 juta. Kemudian pada tahun 1950 keluarlahundang-undang "kembali" (Israel kembali ke Palestina, menurutkeyakinan mereka). Dengan keluarnya keputusan ini maka terjadi eksodusbesar-besar warga Yahudi ke Palestina dengan dalih karena takuttekanan dan penghancuran dan kaum Nazi.

Sementara "impor" dana dari luar berjumlah sangat besar terutama dariAmerika. jumlah total utang luar negeri Israel pada pertengahan tahun1992 mencapai 24,5 Milyar USD atau meningkat hingga 88 dolar daritahun sebelumnya. Ditambah lagi jaminan utang Israel di Amerikamencapai puluhan miliyar dolar setip tahun dan dari Jerman mencapaipuluhan milyar Mark Jerman. (harian Al Syarq Al Qothoriah, edisi02/07/2003)

(tiermiz)

Saturday, July 15, 2006

Zizou

..sebuah tulisan Gunawan Mohamad..

JIKA huruf Arab yang mengeja namanya di-Latin-kan dengan lafal Inggris, ia adalah Zîn ad-Dîn. Di Indonesia ia akan dipanggil Zainuddin. Konon itu berarti "ornamen iman".

Orang tuanya datang dari Dusun Taguemoune, di bukit-bukit Aljazair yang jauh. Seperti banyak orang dari wilayah Afrika yang dilecut niat memperbaiki nasib, Smaïl Zidane, si ayah, pergi merantau ke Paris. Tapi kemiskinan tetap menggilas, dan ia pindah ke Marseille, di selatan, sebuah kota yang tak teramat jauh dari negeri asal.

Pada pertengahan 1960-an itu, Smaïl bekerja sebagai petugas gudang, sering dalam giliran malam. Ia ingat Zainuddin mudah bermimpi buruk bila si bapak tak pulang. Sebab itu pada waktu senggangnya ia penuhkan perhatian bagi anak yang lembut hati yang dipanggilnya Yazid atau "Yaz" itu.

Ketika Zidane muda sudah jadi pemain bola termasyhur, dan seluruh Prancis mengelu-elukannya sebagai pahlawan, dan para pengagumnya memanggilnya "Zizou", bukan "Yaz", ia tak melupakan apa yang diberikan ayahnya. "Saya mendapatkan semangat dari dia," katanya. "Ayahlah yang mengajari kami bahwa seorang imigran harus bekerja dua kali lipat kerasnya jika dibandingkan dengan orang lain--dan tak boleh menyerah."

Daerah La Castellane, di bagian utara Kota Marseille, tempat Zainuddin Zidane dibesarkan, tempat ia bermain bola di lapangan Place de la Tartane, bukanlah wilayah yang ramah. Orang menyebutnya sebagai quartier difficile, perkampungan sulit. Di tepi jalan yang berdebu itu, di deretan perumahan kotak-kotak itu, hidup si muslim, si miskin, si minoritas, yang akhir-akhir ini merisaukan Prancis: beban, ancaman, atau bantuankah mereka?

Dalam hal itu "Zizou" mau tak mau memikul sebuah pertanyaan--meskipun kita
tak tahu sadarkah ia akan hal itu.


Ketika Prancis keluar sebagai kampiun Piala Dunia 1998, sebuah perayaan spontan meluap di Paris: satu setengah juta manusia berderet di Champs Elysees. Sebuah potret besar Zidane, pencetak gol yang menjadikan negerinya sang juara, diproyeksikan di Arc de Triomphe. Ribuan orang berseru, tiba-tiba, "Zidane! Président!"

Zainuddin, keturunan minoritas yang disebut les beurs, serta-merta jadi sebuah ikon bagi sebuah bangsa yang sering disebut "paling rasialis" di Eropa.

Agaknya Piala Dunia sebuah simptom: kompetisi itu adalah ekspresi nasionalisme dalam demamnya yang tak berbahaya. Juga nasionalisme yang tak sama dengan rasialisme. Eropa pernah melahirkan Naziisme, tapi ada sesuatu yang sering diabaikan: nasionalisme punya kemampuan untuk melupakan.

Prancis semenjak revolusi pada abad ke-18 merupakan contohnya. Dari pengalaman itu pada abad ke-19 Ernest Renan mengemukakan pentingnya "lupa" dalam membentuk bangsa: sebuah "nasion" terjadi ketika ikatan kedaerahan, rasial, dan keagamaan tak lagi diingat-ingat. Telah tumbuh hasrat untuk berbareng (le désir de l'être ensemble) di antara anasir yang berbeda-beda. Sebuah kebersamaan pun terbangun.

Zidane menerima dan diterima oleh kebersamaan itu--yang bernama "Prancis"--ketika ada kehendak "melupakan" ikatannya dengan sesuatu yang bukan "Prancis". Juga di lapangan hijau itu: "Prancis" hadir bukan cuma pada warna kaus yang seragam, tapi juga pada agresivitas Zidane yang melupakan diri bahwa ia seorang pemain Real Madrid--seperti halnya lawannya hari itu, Ronaldo dari Brasil.

Demikianlah identitas "Prancis" berkibar dari lupa dan benturan. Kompetisi Piala Dunia memang metafora yang bagus tentang antagonisme, di mana perbedaan yang mutlak tak pernah ada. Sebuah pertandingan selalu mengasumsikan semacam persamaan: tak ada pihak yang 100 persen ganjil bagi
pihak lain. Yang terjadi adalah ada yang menang, ada yang kalah.


Sebagaimana dalam kehidupan: ada antagonisme dalam tiap kebersamaan, dan si menang naik, si kalah turun. Kesetaraan yang penuh tak bisa tercapai; tiap angka 0-0 akan diselesaikan dengan tendangan penalti. Tapi dorongan ke arah kesetaraan akhirnya tak dapat dielakkan, dan argumen untuk mengekalkan perbedaan akan terguncang. "Kami berasal dari sebuah keluarga yang tak punya apa-apa," kata Smaïl Zidane menyaksikan tempik-sorak bagi anaknya di seantero negeri. "Kini kami dihormati orang Prancis dari segala jenis.

"Tapi justru karena itulah Zidane membawa sebuah pertanyaan bagi Prancis: bisakah logika perbedaan diguncang oleh logika kesetaraan? Bagaimana mungkin "mereka"--yang muslim, yang lain--dianggap sederajat dengan "kita", mayoritas?

Tampak bahwa di sini yang ditekankan bukanlah lupa, melainkan ingatan--dan wajah buruk nasionalisme pun menyeringai.

Setelah kemenangan tim Prancis pada tahun 1998 itu, Jean-Marie Le Pen, pemimpin Front National--yang selalu mencurigai minoritas--akhirnya menerima Zidane dengan catatan: sang bintang adalah "putra Aljazair Prancis". Itulah alasannya kenapa Zainuddin layak diterima di antara "kita": Zizou datang dari keluarga "harki", kata Arab untuk menyebut orang Aljazair yang bertempur di pihak Prancis, sang penjajah, pada masa perang kemerdekaan.

Zainuddin membantah itu: keluarganya bukan pengkhianat. Tapi bisakah ia mendefinisikan diri, ketika dunia privat seseorang diserbu kebencian hitam-putih orang ramai? Oktober 2001, sebuah pertandingan persahabatan dicoba antara tim Prancis dan Aljazair di Stade de France. Pertandingan itu simbolik: kedua negeri itu tak pernah bertemu di lapangan bola sejak perang kemerdekaan Aljazair. Tapi seperti diceritakan Andrew Hussey dalam The Observer, menjelang hari itu Zidane diancam akan dibunuh. Poster dipasang:

"Zidane-Harki". Akhirnya permainan tak selesai. Beberapa anak muda keturunan Arab berseru mengelu-elukan Usamah bin Ladin dan mengutuk Republik Prancis.Demikianlah lupa dan ingatan bisa dibongkar pasang untuk diteriakkan, juga bagi si pemalu yang bersuara lirih itu, Zinedine Zidane.

(Catatan Pinggir Majalah TEMPO, 10 Juli 2006)

Wednesday, July 12, 2006

Cause loneliness is tragical*

I was down my dreams were wearing thin
When you're lost where do you begin
My heart always seemed to drift from day to day
Looking for the love that never came my way

Then you smiled and I reached out to you
I could tell you were lonely too
One look and then it all began for you and me
The moment that we touched I knew that there would be

Two less lonely people in the world
And it's gonna be fine
Out of all the people in the world
I just can't believe you're mine
In my life where everything was wrong
Something finally went right
Now there's two less lonely people
In the world tonight

Just to think what I might have missed
Looking back how did I exist
I dreamed, still I never thought I'd come this far
But miracles come true, I know 'cause here we are

Two Less Lonely People in The World (Air Supply, 1983)

*backstreetboys

Thursday, June 15, 2006

Panas dan terbakar

Tuhan,
hari ini aku membakar diriku
juga kedua anak-anakku
aku yakin,
mungkin kau akan langsung
masukkan aku ke neraka
karena mendahului putusan-Mu

Tuhan,
aku tidak sanggup lagi
anakku tumor otak
anak yang Kau titipkan padaku

betapa sakit hati
ketika kulihat anggaran belanja baju Sutiyoso
ketika kudengar anggaran jalan-jalan anggota DPR
ketika gas dan BBM naik lagi
ketika tampaknya pemerintah baru sama saja

tak ada yang berubah pada bangsa ini
dulu dijajah Belanda, sekarang berpatron Amerika
memuja kapitalisme dan meninggalkan Tuhan

lebih baik begini
menuju-Mu dengan cepat
toh, tak ada yang peduli

C)RDS, Jakarta 24 Desembar 2004
mencoba melihat dari kacamata Jasih (34)ibunda Galang (6) dan Galuh (4)sehari sebelum natal, ketika peduli memang mahal harganya