Friday, July 29, 2005

Hukuman mati (a.k.a. death penalty)

Bila pernah melihat A Life of David Gale, pasti akan termangu melihat perjuangan para aktivis penentang hukuman mati itu. Clearance sampai harus membunuh dirinya sendiri dengan cara menelenjangi dirinya, memborgol tangannya, menutup mukanya dengan plastik, menggelepar di lantai dapurnya, mati karena kehabisan nafas. Setelah itu, tuduhan membunuh melayang ke David Gale, yang cairannya ditemukan di dalam tubuh Clearance. Maka, David dituduh sebagai pemerkosa dan pembunuh.

Seorang jurnalis pada akhirnya mewawancara David Gale 4 hari menjelang hukuman mati. Pada akhirnya, tepat di menit Gale meninggal, jurnalis tersebut menemukan bahwa Gale tidak membunuh Clearance, namun dia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa bahkan pemerintah dapat salah menghukum mati orang.

Maka, mengapa ada hukuman mati? Bahkan ada agama yang memang melegalkan itu dengan segenap kontroversi. Apakah memang hidup terlalu berharge sehingga tidak boleh diakhiri sebelum akhirnya, apapun alasannya, apapun caranya, dalam konteks apapun? Hmm.. sampai saat ini, bukan hanya hukuman mati yang menjadi isu, tapi juga aborsi dan eustanasia (suntik mati).

Kembali kepada hukuman mati. Aku percaya, bahwa memang hidup tidak boleh diakhiri sebelum waktunya. Mestinya ada cara hukum lain yang bisa dilakukan, selain mematikan seseorang. Ketika zaman Muhammad dulu, ketika ada pasangan yang dihukum dera karena ketahuan zina, langkah ini dilakukan untuk membuat jera orang-orang sehingga tidak memilih untuk berbuat zina. Entah apakah langkah ini efektif atau tidak dalam mengurangi perzinahan zaman itu. Toh, tidak mudah suatu hukuman mati dilakukan. Hukum dera ini harus melalui bukti dan saksi yang akurat untuk dilakukan.

Jadi, kalau tuhan memang juga menghargai nyawa manusia, kenapa hukuman mati juga masuk dalam satu metode hukumannya kepada manusia?

*aku berlindung dari ketidaktahuanku*

Wednesday, July 27, 2005

Sex sebelum menikah

Mari sedikit bicara sedikit soal SEX (sengaja ditulis dengan huruf besar agar mudah dibaca dan tidak salah :)), hal yang katanya tabu tapi memang sangat nikmat dilakukan dan membuat ketagihan. Bahkan lebih dari minum kopi yang sarat kafein atau merokok yang sarat nikotin. Mungkin itulah dia, kenapa tuhan sepertinya melarang-larang hamba-hambanya yang mengaku beriman kepadanya untuk menjauhi SEX sebelum menikah.. (walla taqrobu zina -- janganlah kamu mendekati zina). Hehehe, maaf ya tuhan, ternyata memang tidak mudah.

Aku sebagai pecinta kopi bahkan tidak menyangkal bahwa candu SEX lebih gila dari candu kafein, padahal cafein mengalir dalam darah dan SEX tidak. Pada awalnya, mungkin hanya coba-coba, pegangan tangan misalnya. Terus selanjutnya mencium dahi. Sesudah dahi, pergi ke pipi. Dari situ, bisa jadi terus ke bibir, dan selanjutnya, bila memang nikmat, silakan bayangkan sendiri.

Pasalnya, bila melakukan itu semua harus menikah, betapa sulitnya :D menemukan pasangan yang pas saja sulit, belum lagi segala tetek bengek pernikahan dan tanggung jawab yang mengikuti status menikah itu :D Ribet memang.

Aku sedikit banyak berpikir kenapa tuhan melarang mendekati zina,bukan langsung melarang zina itu sendiri. Mendekati pun tidak boleh katanya. Bisa jadi, karena itu candu, maka orang tidak akan pernah kapok, sehingga bisa jadi orang akan susah berhenti. Toh SEX itu memang seperti makan, kenyang sebentar, lalu lapar dan ingin serta butuh makan lagi. Orang seringkali tidak bisa menerima resiko dari SEX itu tadi, hamil misalnya. Akan banyak bayi yang lahir tanpa status anak yang jelas (anak siapa ya?). Umat bisa jadi resah.. D'oohh...

SEX memang banyak jebakannya :D (got to trust me on this :P). Then, it's up to you, as long as you are responsible for everything you do.