Wednesday, July 04, 2007

terpaksa merokok

"Rokok Bunuh Semilyar Jiwa" (halaman 1/Harian Rakyat Aceh, 4 Juli 2007)

Headline surat kabar itu membuat saya terhenyak. Permasalahan rokok ternyata jauh dari selesai, mungkin malah semakin buruk. Jika benar data yang dilansir oleh Badan Kesejahteraan Dunia (WHO) ini, maka semilyar bukanlah angka yang sedikit.

Rokok.. benda 9 centimeter yang kecil namun punya daya bunuh tinggi, bukan hanya bagi yang aktif merokok, tapi juga bagi yang pasif merokok. Perokok dikategorikan mejadi dua, perokok aktif-yang aktif menghisap rokok dan perokok pasif-yang tidak merokok, tapi (terpaksa) menghisap asap rokok.

Benda ini mematikan karena rokok (termasuk asap rokok) mengandung
4000 elemen-elemen, yang 200 di antaranya berbahaya adalah racun yang berbahaya bagi kesehatan. Racun yang paling utama ada pada tar (substansi hidrokarbon yang bersifat lengket sehingga bisa menempel di paru-paru), nikotin (zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan), dan karbon monoksida (zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen). Banyaknya racun dalam rokok membuat perokok, baik aktif maupun pasif, mempunyai resiko yang lebih tinggi terkena penyakit berat seperti kanker paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker esophagus, kanker kandung kemih, dan tentu saja serangan jantung. Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.

Kebanyakan perokok berasal dari negara-negara berkembang karena banyak negara maju telah membuat larangan merokok di tempat umum, menaikkan harga rokok setinggi-tingginya, yang pada akhirnya dapat mematikan industri rokok itu sendiri. Data terbaru dari WHO memperkirakan bahwa 59 % pria berusia di atas 10 tahun di Indonesia telah menjadi perokok harian, dan konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok atau urutan ke-4 setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), dan Rusia (230 miliar). Sungguh menakjubkan. Saya juga terhenyak melihat sebuah artikel yang saya baca di internet, bahwa tidak ada keadaan yang paling miskin untuk seseorang perokok. Mereka boleh mempunyai pendapatan yang sangat rendah dalam sehari, namun tetap saja rokok tidak boleh ditinggalkan. Perokok yang paling miskin sekalipun, pasti akan mengalokasikan uangnya untuk sebatang rokok.

Mungkin para perokok aktif belum pernah menghitung berapa uang yang terbuang hanya untuk rokok. Saya pikir, kenapa tidak langsung membakar uang begitu saja kalau memang niat buang-buang uang. Karena buat saya, merokok identik dengan itu. Para perokok aktif mungkin belum pernah tahu bahwa kegiatan merokoknya, terutama di surga perokok seperti Indonesia, tidak hanya menyebabkan dirinya tergatung dan beresiko sakit keras, tapi juga membahayakan nyawa orang lain.

Sekilas membaca puisi Taufik Ismail, tuhan sembilan senti, saya kembali terkejut. Saya tidak pernah berpikir bagaimana rokok dapat lebih berbahaya dari penyakit mematikan seperti AIDS. Bersebelahan dengan dua orang pelaku seks aktif di luar nikah yang sedang bergumul, tidak membuat kita sakit AIDS. Yang ada mungkin penyakit ingin :p Tapi bersebelahan dengan perokok aktif, dapat menyebabkan gangguan pada janin yang tengah Anda kandung atau penyakit kanker yang telah saya tulis di atas.

Taufik Ismail memang benar adanya. Indonesia adalah surga bagi para perokok. Merokok bisa dimana saja (walo telah ada larangan merokok di tempat umum) dan yang pasti harga rokok relatif murah. Ketika saya menginjakkan kaki di kota London pada tahun 1996, saya cukup takjub melihat satu bungkus Marlboro dua kali lipat seharga merk yang sama di Indonesia.

Tempat publik di Indonesia memang tidak pro bagi orang yang tidak merokok. Padahal, seperti halnya merokok adalah hak perokok, udara bersih juga hak orang-orang yang tidak merokok. Sebut saja Nanggroe Aceh, tempat dimana budaya oral dan nongkrong di warung kopi yang sangat tinggi. Dan tentu saja, nongkrong di warung kopi sambil bersilat lidah tidak akan lengkap tanpa asap rokok. Pemandangan yang tidak aneh, ketika dari luar warung kopi terlihat diliputi asap, karena memang di dalamnya orang-orang sedang membakar rokok. Ruang tanpa asap rokok? Hm, tampaknya itu masih mimpi saya di siang bolong. Dan saya sudah lelah memikirkan regulasi.

Pasti pernah terberesit di pikiran para perokok aktif untuk mengganti rokoknya dengan rokok yang berkada nikotin rendah. Sebuah tindakan permisif dengan asumsi bahwa akan lebih tidak berbahaya. Namun ternyata salah kaprah, karena hal ini ternyata tidak membantu. Mengikuti kebutuhan akan zat adiktif ini, perokok aktif secara sadar atau tidak akan cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Tentu saja, sudah harga mati bagi para perokok pasif karena tidak ada batas aman bagi orang yang terhembus asap rokok.

Banyak teman-teman saya yang perokok bilang mereka lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Atau tidak bisa dapat ide bila tidak merokok. Atau, merokok sudah menjadi gaya hidup level tertentu. Atau untuk melarikan diri dari stress. Atau menjadikan mereka lebih bisa konsentrasi. Atau alasan lainnya yang memang terdengar masuk akal.

Saya sudah pernah membuat daftar siapa orang-orang yang kira-kira membuat saya cepat mati karena saya terpaksa ikut merokok bersama mereka. Dan sayangnya, saya harus menuliskan nama ayah, pacar, dan beberapa orang sehabat baik saya di daftar panjang itu.

Berhenti bukanlah mustahil. Beberapa orang teman telah membuktikannya. Dengan niat dan kesungguhan hati, benda mematikan ini bisa distop konsumsinya. Berminat keluar dari daftar panjang orang-orang yang berkontribusi pada kematian cepat saya? Terserah Anda!

Tuesday, May 29, 2007

Mencinta, doaku

Kesekian kalinya, untuk SA

Tuhan,
bila bahagia ini boleh kusebut surga
maka izinkan aku mati
dan terus berada di dalamnya

bila mimpi ini akan habis
ketika aku terjaga
maka biarkan aku tidur nyenyak
dan menikmati indahnya

bila kiamat datang mengambilnya
maka biarkan aku hancur
dan tidak pernah berpisah darinya

Tuhan,
bila Kau berkenan
izinkan aku terus mencintanya
dengan sisa-sisa cintaku yang sempurna

(c) RDS, 270507
10:16 pm

Tuesday, May 01, 2007

Belajar

Belajar adalah proses sepanjang hidup dan baru benar-benar akan berhenti ketika kita masuk liang kubur. Dengan kata lain, mati. Sekarang, saya sudah benar-benar mengamini hal ini.

Sudah lama saya tidak mengobrol dengan belahan jiwa saya yang lain, yaitu ayah saya. Romo, begitu saya dan keluarga besar memanggilnya, adalah panggilan ayah dalam bahasa Jawa. Harus ada episode tulisan lain bila ingin tau kenapa dia akhirnya dipanggil begitu. Obrolan tersebut menyoal kisah belajar ini.

Umurnya sudah 56 tahun, Ibu saya sudah 50 tahun, namun mereka belum juga mengalami episode menikahkan tiga anak perempuannya. Belum juga datang waktunya bahwa mereka harus belajar untuk mengerti para menantu-menantunya.

Obrolan berlanjut. Ketika saya dan dia mengobrolkan kedua adik-adik saya. Sejalan dengan waktu, orang tua dan adik saya menua. Namun kadang, tinggal bersama dan mempunyai hubungan darah bukan berarti kita benar-benar bisa kenal satu sama lain. Adik saya kapan pernah berkeluh kesah bahwa orang tua saya kurang mengerti dia. Dan kapan, orang tua saya juga berkeluh kesah bahwa anak-anak kurang mengenal mereka. Itulah kenapa, belajar menjadi hal yang sangat penting. Sampai tua, kita harus tetap belajar mengenali anak-anak kita dan begitu pula sebaliknya.

Itu hanya sekelumit obrolan yang membuat saya tertegun. Betapa kadangkala kita lupa untuk belajar, untuk beradaptasi dengan perubahan. Karena adaptasi dan belajar adalah dua hal yang niscaya bila kita ingin bertahan dan berhasil menjalani hidup ini. Tidak bisa tidak fleksibel bila inign terus hidup.

Hm, begitulah. Belajar adalah long live process. Baru akan berhenti bila kita mati. Saya jadi ingat perkataan seorang sahabat lama saya, bahwa yang penting dalam menghadapi hidup bukan masalah pintar, kaya, cantik atau hal-hal seperti itu. Tapi lebih kepada masalah stamina, apakah kita punya stamina dan energi yang cukup untuk menghadapi fenomena hidup ini. Menghadapi masa-masa kejayaaan dan juga masa-masa kejatuhan. Kadang, kita merasa sangat lelah menghadapi hidup. Di saat itulah sebenarnya kita harus belajar lagi.

Belajar atau mati..
Tampaknya begitu..

Saturday, April 28, 2007
Home@Jakarta
After a long talk with my father

Thursday, April 19, 2007

Mantan

Seorang mantan tiba-tiba kembali dekat dengan saya akhir-akhir ini. Entah kenapa, tiba-tiba jadi sering menelpon, membagi hidup, meminta saran, juga mengobrol dengan intens. Hal-hal yang dulu jarang saya lakukan dengan dia karena kami terpisah ribuan mil, kami berbeda negara. Saya yang ada di Indonesia dan dia yang belajar di Jerman. Komunikasi kami yang sangat terbatas toh akhirnya tidak membuat kami bertahan.

Saat ini, dirinya pun sudah kembali ke Indonesia. Walau masih juga dipisahkan laut, namun yang pasti, menelpon dia memakai pulsa lokal, bukan international. Menghubungi kembali juga kemudian menjadi pilihan. Bukan berarti kembali lagi pacaran seperti dulu, namun hanya hubungan pertemanan murni. Setidaknya begitulah pilihan saya.

Dalam laut dapat ditebak, dalam hati siapa tahu. Pepatah itu benar adanya. Memang kita tidak pernah tahu bagaimana hati orang, apa yang dia benar-benar rasakan. Kita hanya bisa mereka-reka saja, atau berasumsi. Toh ternyata, saya masih menggoda (maaf ya narsis). Percakapan-percakapan panjang yang kami lakukan, setidaknya membuat dia tersadar bahwa dia telah menyia-nyiakan suatu kesempatan berharga yang memang tidak pernah datang dua kali. Saya tidak bisa menjawab keinginannya untuk mencipta waktu bersama-sama, karena saya sedang berhubungan dengan seorang pria yang sangat mengagumkan. Misalnya toh, tak ada laki-laki itu, bisa jadi, saya pun tidak akan memilih untuk kembali lagi.

Tapi saya tidak menyangkal. Saat ini, kami benar-benar memanfaatkan waktu untuk kembali saling mengenal. Hanya itu. Saya juga sangat tidak mengenal dia. Maka, saya pikir, ini juga bisa dijadikan saat yang tepat untuk berteman dengannya dan mulai mengenalnya lagi sedikit demi sedikit.

Kita memang tidak pernah tahu, kesempatan apa yang kita lewatkan. Memang, kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali dan tidak semua kesempatan memang harus diambil, kecuali kalau Anda kemaruk. Mantan saya, tampaknya, menyadari bahwa mestinya dia tidak menyudahi hubungan itu dulu sebelum dia berpikir matang kesempatan apa yang akan dia sia-siakan. Sayangnya, semua sudah hilang dari depan matanya.

Maka berhati-hatilah. Seringkali manusia sadar bahwa dia menyayangi sesuatu, ketika sesuatu tersebut telah hilang. Semoga kita tidak perlu kehilangan terlebih dahulu untuk menyadari bahwa saya mencintai seseorang atau sesuatu.

Wallahualam bi shawab

Monday, February 19, 2007

Merasa sendiri

Saya seringkali takut merasa sendirian. Saya tidak takut sendiri, tapi merasa sendirian bagi saya bukan hal yang menyenangkan. Padahal, saya selalu menganggap saya mandiri, saya bisa melakukan hal-hal sendiri. Namun, tetap saja, bila perasaan itu datang, saya tidak tahu mau sembunyi dimana.

Mungkin bukan sembunyi, tapi bagaimana mengatasinya. Hari ini, saya sedang sakit. Sudah dua hari tepatnya, flu berat ditambah batuk membuat demam datang. Akhirnya, tinggal di rumah menjadi satu-satunya pilihan. Saat ini, ada konser Ungu dan Samson, sebuah perpaduan yang menarik di kota kecil Banda Aceh ini. Pacar saya kebetulan juga sedang sibuk, maka laptop, radio di handphone, dvd dan buku menjadi teman baik saya.

Saya pikir, tidak ada orang yang suka sendiri. Konon, manusia diciptakan Tuhan berpasangan, ditambah, manusia ternyata adalah makhluk sosial. Dia tidak bisa hidup sendiri, dia pasti tergantung kepada orang lain untuk terus menjaganya tetap hidup. Entah dia sadari atau tidak.

Semakin tua, saya menyadari bahwa teman-teman saya semakin menghilang. Mereka memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri; dan kadang, kita bahkan tidak pernah bertemu lagi. Bukan sombong, tapi saya pikir itulah mengapa dinamakan dunia, karena tidak pernah ada yang abadi. Baik itu pertemanan dekat atau relasi seperti hubungan orang tua dengan anak sekalipun. Manusia dilahirkan sendiri, menghadap Tuhan pun sendiri.

Beberapa teman yang masih tersisa biasanya memang karena sudah sekian lama berteman. Tetap saja bertukar cerita, walau mungkin telah terpisah jauh. Namun, tetap saja, kadang rasa sendiri itu tetap ada.

Saya, sekali lagi, masih mencari cara yang paling efektif, untuk mengatasi rasa sendiri ini. Menjadi dewasa memang tidak menyenangkan, namun, sayangnya tidak bisa saya hindari. Hm, semoga saya cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi. Dan semoga, tidak melulu merasa sendirian.

Feb 18, 2007 19:05

Virginitas

Hehehe, pasti beberapa dari yang membaca judulnya pun sudah tertawa, karena hal ini memang tidak ada habisnya menjadi sorotan. Yep, mengobrolkan hal yang satu ini memang sangat menarik, karena tidak pernah ada definisi baku mengenai hal yang konon diagung-agungkan masyarakat multi zaman.

Baru saja, saya berkirim pesan singkat dengan teman saya, yang kebetulan laki-laki. Dan lucunya membahas soal ini :-)

Virginitas biasanya dikait-kaitkan dengan perempuan. Banyak orang yang menilai, virgin berhubungan dengan kesucian. Misalnya saja di Indonesia, laki-laki yang masih perjaka ataupun tidak seringkali masih mematok perempuan yang akan dinikahinya dari virgin ini. Dan tidak sedikit orang yang memasang standar perempuan “baik-baik” hanya dari sini. Misalkan saja, perempuan yang punya pekerjaan layak, gaji tinggi, terlihat mandiri dan chick, dapat tercoreng citranya hanya karena dia tadi lagi perawan. Hm, saya berpikir, betapa hebatnya selaput dara perempuan mengkontruksi sistem nilai di masyarakat

Ketika saya belum sebesar yang sekarang (yah minimal 27 tidak bisa dibilang anak kecil :-)), saya juga terjebak dalam kungkungan berpikir, bahwa yang namanya virgin, yah selaput dara itu. Bila dia pecah atau rusak sebelum waktu pernikahan, maka “harga” perempuan menjadi turun. Padahal, seringkali selaput dara pecah atau rusak bukan akibat penetrasi penis, tapi akibat hal lain, misalnya cedera karena jatuh atau trauma benda keras. Dan saya pikir, apa sih selaput dara itu sehingga harga perempuan kebanyakan ditakar dari situ?

Banyak laki-laki yang masih “tergila-gila” dengan keperawanan yang notabene hanya selaput dara tadi. Padahal, saya pikir, keperawanan itu mestinya diukur dari hati dan pikiran perempuan tadi, sudah sejauh mana dia mengerti dunia. Bukan dari selaput daranya saja, yang bisa menyebabkan hidupnya hancur kalau dia rusak atau pecah sebelum waktunya.

Belum lagi, kalau perempuan menikah dengan laki-laki yang entah bodoh atau lugu menganggap bahwa pecah atau tidaknya selaput dara dinilai apakah dia berdarah ketika pertama kali berhubungan. Kalau masih ingat kasus Farid Harja yang menceraikan isterinya setelah hari pernikahannya karena mendapati isterinya tidak perawan, padahal apakah Farid Harja masih perjaka ketika itu? Wallahu alam (sayang dia sudah wafat jadi tidak bisa kita cari tahu J). Padahal, berdarah atau tidaknya tergantung apakah penis melukai pembuluh darah vagina/selaput dara atau tidak. Bila tidak, maka sampai sekuat apapun berusaha, sang perempuan tidak akan berdarah.

Saya masih heran saja, di hari seperti ini, di saat semakin modern-nya pemikiran manusia, masih banyak orang yang mengagung-agungkan virginitas alih-alih melihat kelebihan lain dari perempuan itu. Misalnya saja, bagaimana kadar intelektualitasnya, kecerdasannya dalam hubungan antarmanusia, amal yang telah dia lakukan, atau apapun yang jauh lebih kongkrit dan bermakna hanya dari sekedar perempuan itu virgin atau tidak.

Saya pikir, agak sulit kalau ingin menilai mental seseorang hari gini. Orang yang rajin solat dan pergi ke gereja pun masih tega korupsi dan mengobarkan perang saudara di Poso.

Saya lebih baik main aman saja, saya tidak mau jadi korban sistem yang seperti ini. Semoga saja, kekasih saya masih mau menikahi saya even saya tidak perawan sekalipun, amin. Kalaupun tidak, saya pikir, saya pasti belum menemukan orang yang tepat, yang mau menikahi saya karena saya, bukan karena selaput dara di dalam vagina sana. Tabik.

17Feb2007/9:52 pm after Luke’s last sms

Karena sudah kelamaan sendiri dan kemudian berdua

Baru saja, saya bertemu dengan seorang teman perempuan, yang menjenguk datang menjenguk karena saya sedang sakit. Memang sangat enak berteman dengan perempuan, karena mereka cenderung lebih peka akan hal-hal. Namun, saya tidak mengatakan bahwa tidak enak berteman dengan lawan jenis J

Teman perempuan saya ini bercerita bahwa dia sedang dekat dengan seorang pria. Lebih tepatnya, pria ini berkehendak ingin terus dekat dengan teman saya ini. Tampaknya, pria ini sedang PDKT (baca: pendekatan). Teman saya ini bilang, bahwa dia senang-senang saja didekati laki-laki. Ah siapa juga perempuan yang tidak suka bisa disuki laki-laki. Bahkan, jika kita perempuan tidak suka dengan laki-laki yang mendekati itu, tetap saja jauh di lubuk hatinya, perasaan keperempuanannya pasti senang. Anugrah Tuhan bukan, ketika ada orang yang menyukai kita?

Teman saya ini sudah agak lama sendiri, menjomblo lah bahasa gaulnya. Sejak pindah ke negeri tanah rencong ini, dia memang belum lagi menjalin hubungan dengan laki-laki. Ketika ada seorang pria yang mendekatinya, dia pun belum lagi terbiasa. Ketika kemarin berbelanja membeli buah untuk saya, lelaki itu berbaik hati ingin membawakan buah yang dibeli teman saya. Tapi teman saya ini menolak. Beberapa kali. Sampai akhirnya, pria ini berkata, kamu tidak butuh laki-laki ya. Teman saya mengulum senyum dan berkata, ah, saya biasa mengerjakan apa-apa sendiri.

Teman saya berpikir, sudah nyaman sendiri, merdeka dan punya uang sendiri. Dan bisa jadi, saat ini dia tidak butuh laki-laki. Memang sulit membiasakan lagi bersama dengan lawan jenis apalagi bila sudah biasa apa-apa sendiri. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Sudah setahun saya menjalin hubungan dengan laki-laki itu, yang saya juga tidak menyangka bisa berjalan selama ini. Berjalan di masa-masa sulit karena keduanya sudah sangat merdeka dan mandiri, dan sekarang harus belajar untuk saling tergantung. Bukan tergantung yang tidak sehat tentu saja, tapi ketergantungan dua orang yang sama-sama independen. Kata Stephen R. Covey, seorang ahli sumber daya manusia, ketergantungan dua orang yang idependen bernama interdependensi. Bersinergi berdua untuk kemajuan yang lebih baik. Seperti prinsip saya, sendiri harus baik, berdua harus lebih baik. Bila berdua tidak lebih baik, maka sendiri saja. Karena saya pikir, kalau kita sendiri belum baik, bagaimana bisa baik bersama orang lain.

Namun, saya beruntung. Saya dulu pernah terjebak bahwa saya tidak akan butuh laki-laki, karena saya seringkali gagal menjalin hubungan. Namun, ketika dalam perjalanan hidup saya, saya bertemu denga pria yang luar biasa, yang saya pikir, dia sama-sama menuju kemerdekaanya sebagai manusia. Dan saya pikir, dia bisa saya percaya.

Tidak mudah di kala awal, bahkan masih tidak mudah di saat saya mengetik tulisan ini. Kami sama-sama harus membiasakan diri bahwa sekarang kami berhubungan. Misalnya saja, sekarang ini kami belajar untuk sama-sama berkomunikasi setiap hari, sekedar menceritakan apa yang kami lalui. Kami juga belajar untuk menginformasikan keberadaan kami. Memang tidak sampai segitunya, tapi memang sekarang ini saya punya kekhawatiran lebih bila dia tidak mengkontak saya seharian. Yah, apakah itu resiko sebuah hubungan? Bisa jadi iya.

Yang jelas, kami masih sama-sama belajar untuk saling mengenal. Dan bila surga memang berpihak pada kami, bisa jadi kami akan terus bersinergi. Amin.


17 Februari 2007

Wednesday, February 14, 2007

The forces of nature

8 Februari 2007

Nature, to be commanded, must be obeyed.
(Alam, untuk diperintah, harus ditaati)
Francis Bacon


Sebuah opini di Kompas, 6 Februari 2007 milik YF La Kahija (Merefleksikan Alam di Kala Bencana) yang memuat kutipan di atas membuat saya terhenyak. Ternyata untuk bekerja sama dengan alam, kita harus mentaati hukumnya. Melanggar hukum alam, berarti memusuhinya. Memusuhinya, berarti bunuh diri, karena manusia jelas-jelas bergantung kepada alam untuk dapat bertahan hidup.


Mari bicara dalam konteks Indonesia saja. Alam memang tampak sedang mengamuk. Sejak Desember 2004, alam tampaknya belum “jinak” juga sampai sekarang. Bencana seakan tidak berhenti. Yang berhasil saya ingat adalah tsunami yang menghantam Aceh 26 Desember 2004. Dilanjutkan gempa bumi yang menguncang Nias. Lalu tsunami Pangandaran, gempa bumi yang meluluhlantakkan Yogyakarta, lumpur Lapindo Brantas, longsor di Mandailing Natal, dan banjir di Tamiang, Aceh Tengah. Yang terakhir adalah banjir yang sedang terjadi di beberapa daerah Indonesia, termasuk ibukota.

Indonesia adalah area yang rawan bencana, akibat letaknya yang konon “strategis” di antara dua benua (Asia dan Australia), dua samudra (Hindia dan Pasifik) dan juga dua lempeng bumi yang sangat aktif. Seringkali, kita terbuati dengan kata strategis, tanpa tahu lebih lanjut apa akibat dari lokasi ini, terutama untuk alam. Pelajaran geografi tidak pernah mendapat tempat yang layak di jenjang-jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. Mungkin bisa dibuktikan ke anak-anak SD sekarang ini, seberapa seringnya mereka belajar geografi yang bukan hanya menghafal nama-nama gunung di Indonesia.

Selain minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia, kesadaran yang rendah untuk hidup bersama-sama alam juga masih sangat rendah. Jakarta misalnya, yang setiap tahun selalu langganan banjir dan setiap lima tahun hampir selalu kena banjir bandang. Lihatlah mereka yang memilih daerah aliran sungai (DAS) untuk tempat tinggal. Mereka membangun rumah-rumah seadanya, menempati aliran sungai yang seyogyanya harus bebas mengalir. Orang-orang juga seringkali masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Alih-alih membangun gorong-gorong dan drainase yang memadai, juga taman-taman kota untuk penyerapan air, Pemda Jakarta tampaknya lebih senang membangun sarana&prasarana di atas tanah seperti mal (perlu diketahui: pada zaman Sutiyoso, pembangunan mal mencapai 20 kali lipat dibanding pada masa gubernur sebelumnya), gedung perkantoran, busway, real-estate, dan yang paling baru, monoreal. Izin pembangunan sangat mudah diberikan, padahal, tanpa draisnase yang memadai, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Belum lagi soal sampah, masyarakat Jakarta belum mengenal pemisahan sampah organik dan an-organik, juga pengolahannya yang efektif. Padahal di Austria sana, sampah diolah menjadi sumber pembangkit listrik. Saya yakin, hal ini bisa saja dilakukan di Indonesia.

Hal di atas adalah hanya sekelumit contoh ketidakmauan msyarkat untuk belajar memahami alam. Alam pasti memberi banyak, bila manusia belajar bagaimana mematuhinya. Bila manusia tidak mau belajar, kehancuran alam pasti akan semakin cepat.

Para penumpang pesawat terbang


Belum lama ini, saya kembali ke Jakarta dari Banda Aceh menggunakan sebuah maskapai penerbangan nasional. Maskapai nasional yang selama ini masih digunakan karena tidak ada piihan lain yang relatif aman dan baik pelayanannya. Bukan berita baru, bahwa banyak maskapai di Indonesia yang kurang baik keamanan dan pelayanannya.

Saya melihat perilaku-perilaku penumpang pesawat yang cenderung terburu-terburu. Seakan-akan, mereka bahkan tidak punya waktu untuk menghela nafas. Saya tidak membesar-besarkan. Misalkan saja, masuk ke dalam pesawat, seringkali saya melihat orang berebutan masuk; padahal pesawat masih butuh proses untuk memanaskan mesin dan bersiap-siap tinggal landas. Di dalam pesawat, seakan-akan para penumpang takut tempat duduknya terisi oleh yang lain, maka seringkali mereka tidak mau menunggu penumpang di depannya yang sedang bersusah payah memasukkan bagasinya ke tempat penyimpanan di atas tempat duduk. Padahal, tetap saja, tidak sampai memakan waktu dua menit. Alih-alih ngedumel, toh sebenarnya mereka bisa saja membantu.

Setelah itu, orang-orang yang tahu bahwa barang-barang elektronik seperti handphone akan mengganggu persiapan penerbangan, mereka akan segera mematikan handphone. Yang kurang sadar, masih menekan tuts-tutsnya untuk membalas sms atau melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Mereka baru akan mematikan alat-alat tersebut, setelah pramugari mengingatkan bahwa mereka akan segera lepas landas. Saya yakin, pasti ada beberapa orang yang lupa mematikan telepon genggamnya. Padahal, sinyal-sinyal telepon genggam dapat membahayakan penerbangan.

Maka, lepas landaslah. Pada waktu-waktu ini, tidak terlihat perilaku orang-orang yang terburu-buru, toh pada saat ini kita hanya bisa menunggu pesawat sampai di tempat tujuan. Orang-orang biasanya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, mengobrol, ataupun membaca buku.

Ketika pesawat baru saja menyentuh tanah, banyak orang yang serta merta membuka sabuk pengaman. Sudah ada aba-aba dari awak pesawat bahwa sabuk pengaman hendaknya baru dibuka setelah pesawat diparkir dengan sempurna, karena pada saat-saat inilah, sama seperti saat lepas landas, kondisinya sangat kritis. Tidak jarang, ada kasus pesawat tergelincir ketika akan parkir setelah mendarat.

Pada penerbangan ini, saya juga melihat perilaku orang yang sangat tergesa-gesa. Dia berdiri dan akan mengambil barang, padahal pesawat belum berhenti. Toh, kalau pesawat tidak berhenti, dia pun tidak bisa turun. Setelah pesawat berhenti, orang-orang dengan tergesa-gesa berdiri, berebutan mengambil bagasi, dan lekas-lekas turun.

Manusia memang makhluk yang suka tergesa-gesa. Dan menunggu memang tidak menyenangkan. Namun, bukanlah kadang kita harus menghargai waktu dengan berusaha menikmatinya? Hanya beda beberapa detik saja, toh pesawat tidak akan pergi kalau memang belum siap dan penumpang tidak bisa turun bila pesawat belum berhenti. Saya hanya tersenyum heran, karena baru saja kepala saya terantuk barang milik orang yang dengan ceroboh mengambil barangnya dari atas tempat duduk saya. Tanpa mengucapkan maaf, lalu ngacir saja.

Setergesa-tergesa itukah? Entahlah. Saya pun tidak habis pikir kenapa orang-orang tidak berusaha tenang dan santai bila naik pesawat. Apalagi, kalau perilku tersebut seringkali merugikan dan membahayakan penumpang yang lain. Karena saya tidak suka berebutan, maka seringkali saya merpersilakan orang-orang untuk duluan saja naik pesawat. Toh, saya masih berusaha menikmati waktu.

7 Februari 2007

Sunday, February 11, 2007

Shut your mobile down while you’re in the craft

Mungkin banyak orang yang belum mengamini kenapa mereka harus mematikan telepon genggamnya dan sama sekali tidak boleh dinyalakan selama berada di dalam kabin pesawat terbang.

Pesawat terbang modern sangat bergantung kepada gelombang radio untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk komunikasi dengan menara kontrol, navigasi dan pengaturan udara di dalam kabin. Intervensi gelombang rdio yang berasal dari telepon genggam dapat mengacaukan fungsi-fungsi ini.

Pemakai telepon genggam mungkin tidak menyadari, bahwa dalam keadaan standby pun, telepon genggam tetap memancarkan sinyal elektromagnetis yang berfungsi memberitahu komputer di jaringan telepon selulernya bahwa telepon genggam tersebut di dalam keadaan aktif dan dapat dihubungi. Sinyal tersebut kan sekin kuat ketika pemancar di base terminal station (BTS) berkomunikasi dengan telepon genggam untuk menyampaikan panggilan ataupun mengirimkan pesan singkat (SMS).

Padahal, setelah pesawat tinggal landas dan mendekati cruising altitute, telepon genggam tidak akan dapat berfungsi karen jarak dari BTS ke pesawat terlalu jauh. Pesawat juga bergerak terlalu cepat sehingga sebelum telepon genggam terdeteksi dan terdaftar di salah satu sel jaringan telepon genggam ia sudah meninggalkan sel tersebut. Akibatnya, telepon genggam yang terus aktif akan terus-menerus memancarkan sinyal elektromagnetis yang beresiko mengganggu berbagai peralatan penerbangan.

Oleh karena itu, demi keselamatan Anda dan ratusan penumpang lainnya, Anda wajib menyimpan telepon genggam Anda begitu memasuki pintu kabin. Bila Anda menyimpan telepon genggam lain di dalam tas bawaan, periksalah dan pastikanlah bahwa telepon genggam tersebut juga sudah Anda matikan. Anda tidak mau mati konyol hanya karena lupa mematikn telepon genggam Anda bukan?

Disadur bebas dari In Flight Magazine Garuda Indonesia edisi Februari.