Tuesday, September 27, 2005

Chatting?

YM a.k.a. Yahoo Messenger, MSN, IRC atau ICQ sekarang ini bukan hanya dikenal sebagai alat chatting, tapi sudah menjadi alat komunikasi yang umum di sebuah komputer. Biasanya alat-alat chatting ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang kerap online.

Layaknya semua hal yang mempunyai dua sisi mata uang, YM bisa menjadi positif atau negatif. Dalam konteks pekerjaan, misalnya di suatu kantor yang terdiri beberapa orang sampai ribuan orang, YM bisa menjadi alat yang efektif untuk berkomunikasi karena akan menghemat waktu dan bisa dilakukan di sela-sela pekerjaan. Misalnya saja, tidak perlu menelpon ke bagian lain untuk menyampaikan suatu hal, tapi cukup lewat YM sembari bisa mengerjakan hal lainnya di layar komputer.

Juga, untuk beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang dan perlu memonitor banyak isu, YM adalah cara yang cukup murah untuk berhubungan dengan dunia luar kantor. Misalnya saja, saya tahu ada bom Kuningan setelah mendapat kabar dari seorang teman di bilangan Casablanca sebelum Detik.com menerbitkan kejadiannya. Seperti dalam kasus firma public relations, kadangkala klien dan teman wartawan juga bisa ditemui di YM yang memudahkan kita berdiskusi tanpa perlu menelpon atau bertemu meeting. Bahkan tidak jarang, YM dapat menjadi cara conference yang efektif, apalagi bila ada partisipan yang tinggal di luar negeri.

Maka kenapa YM harus dibann? Berkenaan dengan efektivitas pekerjaan? Ah, kenapa tidak dibuat saja peraturan daripada harus melarang orang-orang berkomunikasi? Bisa jadi setelah ini tagihan telepon semakin banyak :P Hehhe, yah semua hal memang ada konsekuensinya.

Sementara belum dilarang, maka manfaatkan saja.


Saturday, September 24, 2005

Senja emasku

matahari terbenam, hari mulai malam. terdengar burung hantu, suaranya merdu..

Itu adalah baris lagu Matahari Terbenam (entah benar atau tidak judulnya dan entah siapa pengarangnya). Pastinya, aku adalah pecinta senja, beberapa jenak sebelum matahari kembali tidur di balik ufuk barat. Menurutku, itulah keadaan terindah langit. Pernahkah kau tak sengaja melihat langit, tepat di ujung sore dan di awal malam. Mungkin sekitar jam 5 sore. Jika kau beruntung, kau akan lihat semburat nila bercampur oranye tembaga keemasan menghiasi birunya langit.

Setiap hari, kita memang selalu bertemu senja, bahkan ketika saat hujan turunpun di saat langit gelap. Namun, campuran sempurna antara nila dan oranye tembaga keeamasan tidak setiap hari dapat kau lihat. Hanya ketika kau beruntung, kadangkala begitu.

Mengutip Seno Gumira*, setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama. Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam. Senja begitu indah, tapi begitu fana -- apakah segala sesuatu dalam kehidupan memang hanya sementara?

Entah kapan aku mulai memperhatikan senja, yang memang tidak pernah setia. Mampir sebentar, memberikan keindahan yang nyaris sempurna, namun cepat menghilang. Maka, bila kau belum pernah sejenak memperhatikan senja, lihatlah langit jam 5 besok sore. Kau akan temukan senja emasku, bila kau beruntung.

*dari Jazz, Parfume dan Insiden; salah satu karya terbaik Seno Gumira Ajidarma

Sunday, September 18, 2005

Pekerjaan domestik rumah tangga

Iya, pekerjaan domestik rumah tangga. Mencuci, menyetrika, memasak, menyapu dan mengepel lantai adalah beberapa dari pekerjaan domestik rumah tangga. Masih menjadi bahasan yang menarik, karena pekerjaan-pekerjaan ini tidaklah mudah, namun harus ada melakukannya. Dalam suatu rumah tangga, seringkali pendapat umum mengatakan, bahwa pekerjaan domestik rumah tangga adalah pekerjaan perempuan (baca: ISTRI, anak perempuan) namun bukanlah dipersepsi secara umum sebagai pekerjaan laki-laki (baca: SUAMI, anak laki-laki) atau pekerjaan non-gender (terserah dirimu lelaki atau perempuan, tapi kerjakan saja).

Mengapa demikian? Dan apakah benar bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah pekerjaan perempuan, seperti yang selama ini terjadi di sebagian besar masyarakat? Kita lihat saja dari keluarga kita sendiri. Yang biasanya terjadi, ibu mengerjakan semua hal tersebut (atau dibantu pembantu dan anak perempuannya). Mulai dari bangun pagi sampai dia menutup mata. Belum lagi, mendidik anak juga merupakan pekerjaan ibu atau istri. Pokoknya suami harus terlindung dari pekerjaan sedemikian, kadangkala malah merasa hina bila harus mengerjakan hal-hal tersebut. Belum lagi, ibu atau istri yang bekerja tidak lantas otomatis terbebas dari pekerjaan itu. Pulang kerja, masih harus lagi memasak atau menyetrika baju hasil cucian pagi harinya. Jadi, kadangkala, perempuan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, jangankan untuk creambath atau spa, membaca koran dan menonton televisi lama-lama menjadi barang mahal.

Padahal, tidak ada peraturan tertulis atau undang-undang yang mengatakan bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan perempuan. Perempuan bermitra kerja dengan laki-laki di dalam perjanjian bernama rumah tangga bukan untuk menjadi pembantu, misalnya, mencucikan baju suami atau memasak setiap hari. Tapi yang pasti, untuk bermitra. Mitra berarti tidak ada subordinat, karena "saham" dalam rumah tangga mestinya dimiliki secara adil oleh orang-orang yang secara sadar saling mengikatkan diri. Pekerjaan domestik mestinya juga menjadi tanggung jawab laki-laki (baca: SUAMI atau anak laki-laki) yang harus dibagi secara jelas siapa mengerjakan apa.

Dahulu, dengan jelas Rasul Muhammad mencuci bajunya sendiri, kadang memasak untuk isteri dan anaknya, dan tidak marah-marah bila kemalaman tidak dibukakan pintu karena sang isteri sudah tidur.

..karena pekerjaan domestik semestinya dikerjakan bersama..

Tuesday, September 13, 2005

HTS*

Hubungan Tanpa Status, kebanyakan orang pasti tahu apa itu. Yah begitulah, itu berhubungan dekat dengan seseorang atau beberapa orang, tanpa embel-embel apa-apa (sahabat, suami, pacar, atau teman dekat).

Hubungan itu, tidak bisa lagi dikategorikan sebagai teman, biasanya pasti lebih dari teman; tapi bukan juga pacaran, karena biasanya ga ada yang nyatain dan ga ada yang nerima/nolak seperti pacaran yang dipersepsi oleh orang-orang kebanyakan. Di dalamnya, juga dihiasi perasaan-perasaan berbau-bau sayang atau cinta, sedih bila dia pergi, senang bila dia ada. Perasaan-perasaan semacam itu lah.

Namun, kenapa orang memilih HTS? Tidak berusaha saja diresmikan atau disesuaikan dengan standar-standar yang dimiliki masyarakat? Bisa jadi, karena lawan hubungannya sudah resmi dengan orang lain (baca: Selingkuhan), karena tidak mau ada komitmen, atau tidak ada alasan apa-apa, merasa dekat dan cocok, tapi tidak juga mau menjadi "formal". Atau mungkin ada alasan lain? Monggo saja, toh ini negara merdeka.

Selama tidak merugikan kedua belah pihak, aku rasa sah-sah saja. Tinggal bagaimana kita memanajemen perasaan agar tidak sedih atau kehilangan ketika dia tidak ada, atau mungkin, ketika hubungan itu harus berakhir..

HTS memang punya kenikmatan tersendiri. Coba saja kalau berani :P

Sunday, September 04, 2005

Pernikahan blues

Kembali lagi merasakan sebuah sindrom yang pernah dialami beberapa waktu yang lalu, yaitu pernikahan blues*. Hm, begitu banyak teman-teman yang tumbang satu persatu karena telah masuk ke dunia pernikahan. Bahkan di antaranya telah hilang ditelan bumi karena sudah tidak bisa lagi diganggu karena sudah mempunyai anak. Memang, tambah dewasa, tambah tidak punya teman.

Mengapa pernikahan blues? Padahal, aku tahu dengan pasti, aku belum ingin menikah sekarang. Hari Gini??**. Orang-orang berkata, mungkin belum ketemu aja orangnya. Bisa jadi begitu, tapi memang bukan hanya itu alasannya.

Namun yang jelas, aku mulai berpikir. Apakah memang diciptakan pria keparat yang luar biasa itu?***. Yang bisa membuat aku percaya, bahwa dia akan mencintaiku sepanjang waktu, bahwa dia tidak akan menyakiti aku. Di tengah gelombang dunia patriarki, adakah juga pria yang mampu memanajemen egonya dan mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga? Agak sangsi..

Maka, aku hanya mensyukuri bilamana teman-temanku sudah bertemu belahan jiwa dan belahan pantatnya. Sedangkan, biarkan pernikahan blues ini aku nikmati sendiri.

*istilahnya Tami, seorang sahabat yang pernah tidak beruntung di pernikahannya.
**meminjam kata dari iklan provider Fren
***istilahnya Feby, sahabatku yang lain lain yang sedang berjuang dalam hubungan terakhirnya