Thursday, December 01, 2005

Dari Ujung Barat Indonesia

Kesampaian juga berkunjung ke daerah paling barat Indonesia. Daerah yang setahun lalu dihempas gempa bumi berkekuatan maha besar dan disapu tsunami dengan kerasnya. Hancur-lebur melanda beberapa kabupaten di Aceh, seperti Meulaboh, Aceh Besar, Aceh Jaya dan tentu saja Banda Aceh.

Secara geografis, Aceh memang terletak di antara pegunungan dan samudra. Bukit Barisan yang melintang dari Aceh sampai Lampung, dipadukan dengan samudra Hindia di arah utara dan barat. Aceh juga diapit selat Malaka dari arah timur dan Sumatra Utara dari selatan. Pemandangan pantainya pun tidak kalah cantik dari Bali atau Pantai Selatan Jawa.

Namun,
Dimulai dengan gempa yang diiringi dengan tsunami, Aceh diluluhlantakkan. Gempa dengan kekuatan 8,9 skala Richter selama 15 menit, menghancurkan beberapa kabupaten. Selang 15 menit setelahnya, ketika shock akan gempa belumlah usai, tiba-tiba air bah datang dari laut setinggi hampir dua kali pohon kelapa menghempas apapun yang dilaluinya. Anak-anak kecil yang sedang berlarian dan mengambil ikan di laut adalah korban pertamanya. Langkah-langkah mereka yang kecil tidak kuasa berlomba dengan cepatnya gelombang yang datang bertubi-tubi.

Banda Aceh, Meulaboh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Lhoksumawe adalah daerah-daerah yang hancur dihempas mesin penghancur tsunami. Setelah setahun, pembangunan memang mulai dilakukan. Namun masih sekitar 600ribu orang yang masih tinggal di tenda pengungsian, tinggal di bawah seng atau terpal, berteman hujan dan panas. PR pemerintah masihlah banyak.

Thursday, October 13, 2005

Apa saja kerja pemerintah?

Sekedar tulisan, silakan dipersepsi apa saja.

Apa yang ada di benak SBY ketika jadi menaikkan BBM sampai dengan lebih dari 100% sebelum Ramadhan tiba? Apakah memang disengaja untuk menghindari demonstrasi besar-besaran dan mengambil momentum yang katanya Ramadhan harus dilalui dengan tenang? Bisa jadi. Yang pasti, banyak orang menyayangkan kenapa SBY tidak menunggu sampai awal tahun depan, atau minimal sampai habis lebaran lah. Lebaran, tanpa diembel-embeli dengan naiknya BBM, toh harga-harga sudah mulai melambung. Bila ditambah, entahlah apa jadinya.

Gila juga, ketika minyak tanah yang notabene adalah 'bahan bakar' sehari-hari bagi rakyat miskin naik dari 700 perak ke angka 2000. Itu angka resmi dari pemerintah. Tapi faktanya, di pasar, rakyat mendapatkan minyak tanah dengan harga sampai dengan 3500 per liternya. Hm, bahkan Gas Elpiji yang dikonsumsi orang-orang menengah ke atas pun langka di pasaran. Jikalau ada, harganya bisa sampai 80.000 per tabung. Boker keluar duit?? Dan hebatnya lagi, seorang menteri bermulut harimau pun bilang, jangan pakai gas elpiji bila memang tidak mampu beli. Hm, turun saja Pak, bunuh diri seperti menteri-menteri di Jepang dan biarkan kami menyediakan pisaunya. Tidak punya empati, janganlah jadi menteri!!

Edannya lagi, pemerintah sekarang ini pastilah telah menjadi saksi naiknya BBM di era Soeharto dan yang pasti Megawati. Tapi kenapa tidak pernah belajar untuk meminimalisasi dampak dari naiknya harga BBM tersebut? Kenapa tidak jauh-jauh sebelumnya, pemerintah berusaha mensosialisasikan kenapa BBM harus naik, jalan-jalan ke kampung dan kelurahan untuk melakukan sosialisasi. Lalu, kenapa tidak dipanggil para Pemda agar mempersiapkan dengan baik naiknya harga BBM, dalam hal ini misalnya saja berdiskusi jauh-jauh hari dengan para pengusaha angkot dan bis kota untuk bersama-sama menentukan berapa banyak tarif yang harus dinaikkan? Bangsa ini memang tidak pernah belajar..

Ketika yang miskin tambah miskin, pemerintah tidak berbuat sesuatu yang signifikan. 100.000 subsidi? Untuk apa? Biaya makan? Biaya sekolah? Biaya listrik? Hm, tampaknya ko sedikit sekali. Berkelit di balik harga BBM dunia yang terus naik, memang harga minyak di dalam negeri haruslah ditambah. Namun, jangan salah, negeri ini paling senang korupsi. Jadi, harga minyak boleh naik, namun rakyat tidak pernah mendapat keuntungan apa-apa.

Maka, apakah tidak malu terhadap rakyat yang makin tidak bisa makan? Apakah tidak malu terhadap korban busung lapar?? Hm, tampaknya mungkin tidak. Maka, dengan rendahnya kualitas hidup di Indonesia saat ini, masih bisakah 20 lagi aku menceritakan Indonesia kepada anak-anakku?

Mari sumbangkan uang anda ke Dompet Duafa (BCA no. 2373006343), setidaknya, mereka menyediakan warung murah yang menjual makanan 1000 rupiah dan bis gratis Pulo Gadung-Blok-M. Mari lakukan yang kita bisa, dan menjadi bagian dari solusi. Karena menunggu pemerintah memang tidak pernah ada hasilnya. Salam!


Wednesday, October 05, 2005

Bom, an never ending story

karena bom meledak di kota-kotanya..

Bom meledak lagi. Kali ini Bali kembali menjadi korbannya. Sudah 2 kali, tampaknya belumlah bosan pengebom itu meledakkan bom-bom di Indonesia. Berbeda dengan ledakan tahun 2003 yang memakai hulu ledak jarak jauh, ledakan kedua ini memakai orang sebagai mortirnya (baca: bom bunuh diri). Hm, semakin seru memang.

Bom-bom ditanam 3 tempat dan meledak di waktu yang hampir bersamaan. Dua di Jimbaran dan 1 di Kute Town Square yang sampai hari ini menewaskan sekitar 22 orang (ada yang bilang 26). Bukan dilihat dari jumlah yang mati, tapi lebih kenapa bom itu diledakkan? Tidak adakah cara lain untuk mengungkapkan ekspresi ketidaksukaan?

Toh Tuhan tidak perlu dibela. Tuhan itu Mahabesar, Mahabisa apa saja. Tidak perlu bantuan manusia untuk menunjukkan kasih, atau menunjukkan murka.

Hm, yang meninggal juga toh rakyat sipil. Mereka pasti berdosa, tapi siapakah yang tidak?

tampaknya, belumlah akan berhenti meledak..

Tuesday, October 04, 2005

IzinMu pintaku

Tuhan,
izinkan aku mencintaMu
pada bulan yang Kau bilang
lebih mulia daripada 1000 yang lain

izinkan aku mencanduMu
dengan dosa-dosaku yang setinggi langit
berharap kasihMu dapat meleburnya

izinkan aku mencumbuMu
dalam lirih doa-doaku
lewat tetesan-tetesan air mataku
dalam tawa-tawaku
juga lewat hembus nafasku

izinkan aku
memintaMu menemani kembaraku
Ramadhan kali ini

C)RDS, Jakarta 041005 8.12am
dalam perjalanan menuju kebayoran..

Tuesday, September 27, 2005

Chatting?

YM a.k.a. Yahoo Messenger, MSN, IRC atau ICQ sekarang ini bukan hanya dikenal sebagai alat chatting, tapi sudah menjadi alat komunikasi yang umum di sebuah komputer. Biasanya alat-alat chatting ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang kerap online.

Layaknya semua hal yang mempunyai dua sisi mata uang, YM bisa menjadi positif atau negatif. Dalam konteks pekerjaan, misalnya di suatu kantor yang terdiri beberapa orang sampai ribuan orang, YM bisa menjadi alat yang efektif untuk berkomunikasi karena akan menghemat waktu dan bisa dilakukan di sela-sela pekerjaan. Misalnya saja, tidak perlu menelpon ke bagian lain untuk menyampaikan suatu hal, tapi cukup lewat YM sembari bisa mengerjakan hal lainnya di layar komputer.

Juga, untuk beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang dan perlu memonitor banyak isu, YM adalah cara yang cukup murah untuk berhubungan dengan dunia luar kantor. Misalnya saja, saya tahu ada bom Kuningan setelah mendapat kabar dari seorang teman di bilangan Casablanca sebelum Detik.com menerbitkan kejadiannya. Seperti dalam kasus firma public relations, kadangkala klien dan teman wartawan juga bisa ditemui di YM yang memudahkan kita berdiskusi tanpa perlu menelpon atau bertemu meeting. Bahkan tidak jarang, YM dapat menjadi cara conference yang efektif, apalagi bila ada partisipan yang tinggal di luar negeri.

Maka kenapa YM harus dibann? Berkenaan dengan efektivitas pekerjaan? Ah, kenapa tidak dibuat saja peraturan daripada harus melarang orang-orang berkomunikasi? Bisa jadi setelah ini tagihan telepon semakin banyak :P Hehhe, yah semua hal memang ada konsekuensinya.

Sementara belum dilarang, maka manfaatkan saja.


Saturday, September 24, 2005

Senja emasku

matahari terbenam, hari mulai malam. terdengar burung hantu, suaranya merdu..

Itu adalah baris lagu Matahari Terbenam (entah benar atau tidak judulnya dan entah siapa pengarangnya). Pastinya, aku adalah pecinta senja, beberapa jenak sebelum matahari kembali tidur di balik ufuk barat. Menurutku, itulah keadaan terindah langit. Pernahkah kau tak sengaja melihat langit, tepat di ujung sore dan di awal malam. Mungkin sekitar jam 5 sore. Jika kau beruntung, kau akan lihat semburat nila bercampur oranye tembaga keemasan menghiasi birunya langit.

Setiap hari, kita memang selalu bertemu senja, bahkan ketika saat hujan turunpun di saat langit gelap. Namun, campuran sempurna antara nila dan oranye tembaga keeamasan tidak setiap hari dapat kau lihat. Hanya ketika kau beruntung, kadangkala begitu.

Mengutip Seno Gumira*, setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama. Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam. Senja begitu indah, tapi begitu fana -- apakah segala sesuatu dalam kehidupan memang hanya sementara?

Entah kapan aku mulai memperhatikan senja, yang memang tidak pernah setia. Mampir sebentar, memberikan keindahan yang nyaris sempurna, namun cepat menghilang. Maka, bila kau belum pernah sejenak memperhatikan senja, lihatlah langit jam 5 besok sore. Kau akan temukan senja emasku, bila kau beruntung.

*dari Jazz, Parfume dan Insiden; salah satu karya terbaik Seno Gumira Ajidarma

Sunday, September 18, 2005

Pekerjaan domestik rumah tangga

Iya, pekerjaan domestik rumah tangga. Mencuci, menyetrika, memasak, menyapu dan mengepel lantai adalah beberapa dari pekerjaan domestik rumah tangga. Masih menjadi bahasan yang menarik, karena pekerjaan-pekerjaan ini tidaklah mudah, namun harus ada melakukannya. Dalam suatu rumah tangga, seringkali pendapat umum mengatakan, bahwa pekerjaan domestik rumah tangga adalah pekerjaan perempuan (baca: ISTRI, anak perempuan) namun bukanlah dipersepsi secara umum sebagai pekerjaan laki-laki (baca: SUAMI, anak laki-laki) atau pekerjaan non-gender (terserah dirimu lelaki atau perempuan, tapi kerjakan saja).

Mengapa demikian? Dan apakah benar bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah pekerjaan perempuan, seperti yang selama ini terjadi di sebagian besar masyarakat? Kita lihat saja dari keluarga kita sendiri. Yang biasanya terjadi, ibu mengerjakan semua hal tersebut (atau dibantu pembantu dan anak perempuannya). Mulai dari bangun pagi sampai dia menutup mata. Belum lagi, mendidik anak juga merupakan pekerjaan ibu atau istri. Pokoknya suami harus terlindung dari pekerjaan sedemikian, kadangkala malah merasa hina bila harus mengerjakan hal-hal tersebut. Belum lagi, ibu atau istri yang bekerja tidak lantas otomatis terbebas dari pekerjaan itu. Pulang kerja, masih harus lagi memasak atau menyetrika baju hasil cucian pagi harinya. Jadi, kadangkala, perempuan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, jangankan untuk creambath atau spa, membaca koran dan menonton televisi lama-lama menjadi barang mahal.

Padahal, tidak ada peraturan tertulis atau undang-undang yang mengatakan bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan perempuan. Perempuan bermitra kerja dengan laki-laki di dalam perjanjian bernama rumah tangga bukan untuk menjadi pembantu, misalnya, mencucikan baju suami atau memasak setiap hari. Tapi yang pasti, untuk bermitra. Mitra berarti tidak ada subordinat, karena "saham" dalam rumah tangga mestinya dimiliki secara adil oleh orang-orang yang secara sadar saling mengikatkan diri. Pekerjaan domestik mestinya juga menjadi tanggung jawab laki-laki (baca: SUAMI atau anak laki-laki) yang harus dibagi secara jelas siapa mengerjakan apa.

Dahulu, dengan jelas Rasul Muhammad mencuci bajunya sendiri, kadang memasak untuk isteri dan anaknya, dan tidak marah-marah bila kemalaman tidak dibukakan pintu karena sang isteri sudah tidur.

..karena pekerjaan domestik semestinya dikerjakan bersama..

Tuesday, September 13, 2005

HTS*

Hubungan Tanpa Status, kebanyakan orang pasti tahu apa itu. Yah begitulah, itu berhubungan dekat dengan seseorang atau beberapa orang, tanpa embel-embel apa-apa (sahabat, suami, pacar, atau teman dekat).

Hubungan itu, tidak bisa lagi dikategorikan sebagai teman, biasanya pasti lebih dari teman; tapi bukan juga pacaran, karena biasanya ga ada yang nyatain dan ga ada yang nerima/nolak seperti pacaran yang dipersepsi oleh orang-orang kebanyakan. Di dalamnya, juga dihiasi perasaan-perasaan berbau-bau sayang atau cinta, sedih bila dia pergi, senang bila dia ada. Perasaan-perasaan semacam itu lah.

Namun, kenapa orang memilih HTS? Tidak berusaha saja diresmikan atau disesuaikan dengan standar-standar yang dimiliki masyarakat? Bisa jadi, karena lawan hubungannya sudah resmi dengan orang lain (baca: Selingkuhan), karena tidak mau ada komitmen, atau tidak ada alasan apa-apa, merasa dekat dan cocok, tapi tidak juga mau menjadi "formal". Atau mungkin ada alasan lain? Monggo saja, toh ini negara merdeka.

Selama tidak merugikan kedua belah pihak, aku rasa sah-sah saja. Tinggal bagaimana kita memanajemen perasaan agar tidak sedih atau kehilangan ketika dia tidak ada, atau mungkin, ketika hubungan itu harus berakhir..

HTS memang punya kenikmatan tersendiri. Coba saja kalau berani :P

Sunday, September 04, 2005

Pernikahan blues

Kembali lagi merasakan sebuah sindrom yang pernah dialami beberapa waktu yang lalu, yaitu pernikahan blues*. Hm, begitu banyak teman-teman yang tumbang satu persatu karena telah masuk ke dunia pernikahan. Bahkan di antaranya telah hilang ditelan bumi karena sudah tidak bisa lagi diganggu karena sudah mempunyai anak. Memang, tambah dewasa, tambah tidak punya teman.

Mengapa pernikahan blues? Padahal, aku tahu dengan pasti, aku belum ingin menikah sekarang. Hari Gini??**. Orang-orang berkata, mungkin belum ketemu aja orangnya. Bisa jadi begitu, tapi memang bukan hanya itu alasannya.

Namun yang jelas, aku mulai berpikir. Apakah memang diciptakan pria keparat yang luar biasa itu?***. Yang bisa membuat aku percaya, bahwa dia akan mencintaiku sepanjang waktu, bahwa dia tidak akan menyakiti aku. Di tengah gelombang dunia patriarki, adakah juga pria yang mampu memanajemen egonya dan mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga? Agak sangsi..

Maka, aku hanya mensyukuri bilamana teman-temanku sudah bertemu belahan jiwa dan belahan pantatnya. Sedangkan, biarkan pernikahan blues ini aku nikmati sendiri.

*istilahnya Tami, seorang sahabat yang pernah tidak beruntung di pernikahannya.
**meminjam kata dari iklan provider Fren
***istilahnya Feby, sahabatku yang lain lain yang sedang berjuang dalam hubungan terakhirnya

Friday, August 05, 2005

Dilarang miskin di Jakarta!

Akhir-akhir ini, betapa mirisnya melihat pemberitaan-pemberitaan di surat kabar ibukota, yang memberitakan cerita rakyat miskin di Jakarta. Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah miskin sengsara pula, mungkin kata-kata itu yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka.

Sebutlah Zulkifli, bayi mungil prematur yang mengalami kelahiran kuning. Ayah ibunya berkeliling kota Jakarta selama 11 jam ke enam rumah sakit yang berbeda mohon agar anaknya dapat dirawat. Alhasil, sebelum maut menjemput, ada rumah sakit yang mau merawat, itupun setelah ayahanda Zul mengumpulkan sejumlah uang yang sudah habis untuk keliling Jakarta memakai taksi.

Cerita Zul adalah 1 dari ribuan bahkan trilyunan cerita rakyat miskin di Jakarta, apalagi kok di Indonesia. Belumlah lagi cerita yang tidak terblowup di media. Hebatnya, yang kaya juga semakin bertambah. Atau minimal, mencari cara agar semakin cara. Lihat saja anggota DPR yang minta naik gaji, padahal, kalau melihat hasil pekerjaannya, mereka mestinya malu minta naik gaji. Atau para koruptor yang sudah makin menjadi industri di negara ini.

Ironi dan paradoks memang membangun dunia. Mari menjadi bagian daripadanya.

Friday, July 29, 2005

Hukuman mati (a.k.a. death penalty)

Bila pernah melihat A Life of David Gale, pasti akan termangu melihat perjuangan para aktivis penentang hukuman mati itu. Clearance sampai harus membunuh dirinya sendiri dengan cara menelenjangi dirinya, memborgol tangannya, menutup mukanya dengan plastik, menggelepar di lantai dapurnya, mati karena kehabisan nafas. Setelah itu, tuduhan membunuh melayang ke David Gale, yang cairannya ditemukan di dalam tubuh Clearance. Maka, David dituduh sebagai pemerkosa dan pembunuh.

Seorang jurnalis pada akhirnya mewawancara David Gale 4 hari menjelang hukuman mati. Pada akhirnya, tepat di menit Gale meninggal, jurnalis tersebut menemukan bahwa Gale tidak membunuh Clearance, namun dia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa bahkan pemerintah dapat salah menghukum mati orang.

Maka, mengapa ada hukuman mati? Bahkan ada agama yang memang melegalkan itu dengan segenap kontroversi. Apakah memang hidup terlalu berharge sehingga tidak boleh diakhiri sebelum akhirnya, apapun alasannya, apapun caranya, dalam konteks apapun? Hmm.. sampai saat ini, bukan hanya hukuman mati yang menjadi isu, tapi juga aborsi dan eustanasia (suntik mati).

Kembali kepada hukuman mati. Aku percaya, bahwa memang hidup tidak boleh diakhiri sebelum waktunya. Mestinya ada cara hukum lain yang bisa dilakukan, selain mematikan seseorang. Ketika zaman Muhammad dulu, ketika ada pasangan yang dihukum dera karena ketahuan zina, langkah ini dilakukan untuk membuat jera orang-orang sehingga tidak memilih untuk berbuat zina. Entah apakah langkah ini efektif atau tidak dalam mengurangi perzinahan zaman itu. Toh, tidak mudah suatu hukuman mati dilakukan. Hukum dera ini harus melalui bukti dan saksi yang akurat untuk dilakukan.

Jadi, kalau tuhan memang juga menghargai nyawa manusia, kenapa hukuman mati juga masuk dalam satu metode hukumannya kepada manusia?

*aku berlindung dari ketidaktahuanku*

Wednesday, July 27, 2005

Sex sebelum menikah

Mari sedikit bicara sedikit soal SEX (sengaja ditulis dengan huruf besar agar mudah dibaca dan tidak salah :)), hal yang katanya tabu tapi memang sangat nikmat dilakukan dan membuat ketagihan. Bahkan lebih dari minum kopi yang sarat kafein atau merokok yang sarat nikotin. Mungkin itulah dia, kenapa tuhan sepertinya melarang-larang hamba-hambanya yang mengaku beriman kepadanya untuk menjauhi SEX sebelum menikah.. (walla taqrobu zina -- janganlah kamu mendekati zina). Hehehe, maaf ya tuhan, ternyata memang tidak mudah.

Aku sebagai pecinta kopi bahkan tidak menyangkal bahwa candu SEX lebih gila dari candu kafein, padahal cafein mengalir dalam darah dan SEX tidak. Pada awalnya, mungkin hanya coba-coba, pegangan tangan misalnya. Terus selanjutnya mencium dahi. Sesudah dahi, pergi ke pipi. Dari situ, bisa jadi terus ke bibir, dan selanjutnya, bila memang nikmat, silakan bayangkan sendiri.

Pasalnya, bila melakukan itu semua harus menikah, betapa sulitnya :D menemukan pasangan yang pas saja sulit, belum lagi segala tetek bengek pernikahan dan tanggung jawab yang mengikuti status menikah itu :D Ribet memang.

Aku sedikit banyak berpikir kenapa tuhan melarang mendekati zina,bukan langsung melarang zina itu sendiri. Mendekati pun tidak boleh katanya. Bisa jadi, karena itu candu, maka orang tidak akan pernah kapok, sehingga bisa jadi orang akan susah berhenti. Toh SEX itu memang seperti makan, kenyang sebentar, lalu lapar dan ingin serta butuh makan lagi. Orang seringkali tidak bisa menerima resiko dari SEX itu tadi, hamil misalnya. Akan banyak bayi yang lahir tanpa status anak yang jelas (anak siapa ya?). Umat bisa jadi resah.. D'oohh...

SEX memang banyak jebakannya :D (got to trust me on this :P). Then, it's up to you, as long as you are responsible for everything you do.



Thursday, June 23, 2005

Are you afraid to express your feeling?

Pertanyaan itu kembali aku tujukan kepada para kaum Adam yang seringkali tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Seringkali, melihat laki-laki datar dan bermuka sama dalam menghadapi segala situasi. Muka mereka datar ketika senang, juga datar ketika sedih. Atau, kalaupun ada ekspresi yang terlihat, itu juga ekspresi seadanya. Seringkali, tidak terlihat kerling-kerling di mata-mata mereka, padahal baru saja mendapatkan hal-hal yang menyenangkan. Apalagi kok air mata ketika kesedihan sedang mendatanginya.

Ada suatu kejadian lucu di kampus dulu. Seorang teman laki-laki yang mendatangiku dengan air mata kemarahan di matanya. Wi, aku butuh ditemani, tapi jangan bilang aku banci ya. Hm, ternyata itu salah satu alasan logisnya. Mereka takut dibilang banci ketika menangis atau berjingkrak kegirangan. Ekspresi perasaan yang paling juga sulit dikeluarkan adalah rasa cinta atau sayang. Sepertinya hal inilah yang banyak dikeluhkan kaum perempuan.

Buat perempuan, yang konon berasal dari Venus, sangat penting perasaan itu diekspresikan, dengan senyum, tawa, kata-kata, jeritan, tangis, bahkan cubitan, pelukan, atau apalah. Dan tentunya butuh pengulangan. Buat laki-laki, bangsa Mars itu, tampaknya hal ini aneh. Mereka hanya senang mengatakan hal beberapa kali saja. Bahkan terkadang, sangat susah mengatakan hal-hal yang ada di hatinya, walau itu benci sekalipun. Hm, bukankah menyenangkan menjadi ekspresif?


Toh aku lebih senang berteman dengan pria ekspresif, tercermin dalam kata, pemikiran dan perbuatan. Seringkali membuat hidup lebih mudah :D

So Guys, Dare You?

Tuesday, June 21, 2005

Berteman dengan pria beristeri

Lagi, sebuah episode hidup yang tak kunjung selesai.
Berteman, memang bisa dengan siapa saja yang kita sukai, bahkan pada suatu ketika, bisa jadi kita berteman dengan orang atau hal-hal yang tidak kita sukai. Namun biasanya ini terjadi ketika tidak ada lagi hal atau teman yang kita sukai.

Sebutlah 'Senior' di Surabaya.
Demam internet baru melanda waktu itu, ketika orang-orang sangat ketagihan beremail-email ria atau chatting di IRC. Awalnya hanya bertegur sapa, sampai merasa nyaman dan berlanjut di email-email yang sehari bisa tujuh kali. Siapa yang tidak suka mendapat email di inboxnya, bertukar pikiran, bertukar pengalaman, saling menguatkan atau mentertawakan dan lama-lama saling juga bertukar hidup. Tidak lebih. Toh keduanya memang menjaga diri dengan baik untuk tidak tergoda ataupun saling menggoda. Mereka sama-sama berpikir, tidak ada bahayanya.

Namun, katanya, memang tidak mudah berteman dengan orang yang sudah punya pasangan (baca:menikah), apalagi kalau mereka adalah lawan jenis. Sayangnya, hal ini diperburuk dengan kultur orang Indonesia yang benar-benar tidak bertoleransi akan hubungan pertemanan dengan lawan jenis yang sudah menikah. Akan banyak kecurigaan terjadi, biarpun bila pertemanan itu murni berteman dan tidak disertai dengan rasa-rasa yang berbeda.

Sudah pernah ditawarkan sebuah hubungan pertemanan keluarga, tidak hanya berteman dengan suaminya, tapi juga isteri dan anaknya. Tapi memang orang Indonesia, hal ini pastilah dianggap sebagai hal yang tidak mungkin. Bisa membuat masalah lah, bisa membuat fitnah lah, sebut saja alasan-alasan bodoh lainnya. Padahal, buat aku, menikah bukan berarti kehilangan teman.

Maka, bersyukurlah bila bisa berteman dengan lawan jenis yang sudah menikah tanpa harus sembunyi-sembunyi dan takut.


Friday, June 03, 2005

Red Tulips


Red tulips Posted by Hello
Tulip, terpujilah Tuhan penciptanya. Salah satu bunga yang menurut aku diciptakan sempurna oleh Tuhan. Aku pertama kali melihat, memegang dan menciumnya, ketika aku berada di Swedia, April 2003 tahun lalu. Tulip yang aku tahun tumbuh subur di Belanda, negara kincir angin itu. Namun sebenarnya, Tulip berasal dari Timur Tengah, daerah Turki http://www.answers.com/topic/tulip Tulip dibawa ke Eropa pada abad 16. Dalam literatur awal bahasa Inggris, Tulip ditulis sebagai Tulipa atau Tulipant; dalam bahasa Perancis, Tulipe; dalam bahasa Latin, tulīpa; dalam bahasa Turki, tülbend. Orang-orang Turki, negara yang dipercaya sebagai asal bunga Tulip menyamakannya dengan sorban, karena di saat mekar, kelopak bunga tulip tampak seperti sorban.
Tulip ditemukan hampir pada semua warna, kecuali biru dan hitam. Tulip tumbuh subur di daerah Timur Tengah pada bulan November sampai Mei, sedangkan untuk Tulip di Eropa, subur pada bulan Januari sampai April. Dalam bahasa Victoria, Tulip merah seperti halnya Mawar merah adalah sebuah pengakuan cinta.
Bagi bangsa Iran dan Turki, Tulip adalah bunga nasional mereka, walaupun Tulip memang tumbuh subur di Belanda. Tulip berasal dari divisi Magnoliophyta, kelas Liliopsida, orde Liliales, dan keluarga Liliaceae. Sayang sekali, Tulip tidak tumbuh di Indonesia, padahal bunga ini tidak kalah cantiknya dengan mawar atau daisy.

Monday, May 30, 2005

Scudetto ke-28


Il Capitano, when Juventus gained its 28th scudetto.
Posted by Hello

Akhirnya! Setelah dikalahkan Liverpool dan gagal masuk Final Champion 2005 (AGAIN), Juventus tidak memepermalukan dirinya sendiri dengan menjadi Scudetto di Liga Seri A Italia. Scudetto diraih sebelum Juventus bertanding di pertandingan terakhir melawan Cagliari, karena beberapa hari sebelumnya, Milan hanya seri bermain dengan Palermo. Toh, pada akhirnya, Milan pun gagal mendapatkan gelar Juara Champion karena kalah pada duel penalti melawan Liverpool.
Pada liga italia musim ini, persaingan ketat antara Juventus dan Milan terus berlangsung sampai minggu terakhir sebelum musim berakhir. Kebanyakan orang menebak, keduanya harus menempuh play off untuk menentukan siapa yang berhak menggondol jabatan scudetto. Namun, bye bye Milan.
Tanpa gelar ya? Ehm, ehm..
Yah, toh Juventus masih membuktikan dirinya paling baik di Italia. Semoga tahun depan bisa unjuk gigi di Eropa. Bravo Bianconerri!

Sunday, May 29, 2005

Akhir juga milik Tuhan

Tragis.
Itulah yang tepat diucapkan ketika melihat perjuangan Kimi Raikkonen hari Minggu ini. Kemenangan yang telah di depan mata kandas begitu saja. Semenjak masuk pitstop beberapa lap sebelum masuk garis akhir, tampaknya tejadi kekacauan pada sistem rem mobilnya. Aku tidak terlalu ngerti, yang pasti, aku melihat rodanya oglek-oglek seperti tidak di spooring & balancing.

Pertarungan sengit antara The Ice Man dan Fernando Alonso, tadinya berselang lebih dari 5 detik, sampai akhirnya pada 4 detik lebih. Aku sudah menebak, sepertinya Kimi tidak akan masuk garis akhir. Toh, pada akhirnya, satu putaran sebelum masuk garis... kandas... rodanya terlepas dari as nya, yang menyebabkan mobilnya berputar tidak jelas dan keluar jalur.

Tragis..

Mengingatkan kembali, bahwa sekeras apapun manusia berusaha, Tuhan pula yang menentukan akhirnya. Takdir memang interaktif, toh apa keputusan Tuhan, Dia juga melihat usaha kita. Aku percaya, takdir itu seperti gelas. Kontribusi manusia dan Tuhan untuk mengisi gelas itu. Kadang Tuhan sudah mengisinya penuh, sehingga tak perlu susah payah untuk mendapatkan sesuatu. Kadang Tuhan mengisi ¾, kadang ½ dan kadang hanya sedikit. Yang pasti, tidak hanya Tuhan yang menentukan takdir, tapi juga manusia.

Katanya, ada 4 hal yang Tuhan sudah tentukan, yaitu hidup, rejeki, jodoh dan mati. Aku sepakat pada kata hidup dan mati, kita tidak pernah minta untuk hidup dan kita tidak akan tahu kapan kita mati. Persoalan rejeki, memang setiap orang sudah punya porsi, tapi toh tak akan jatuh dari langit. Harus dicari, harus diperjuangkan, harus diraih. Begitu pula jodoh (dalam konteks ini tidak hanya jodoh dalam konteks perempuan dan laki-laki, tapi juga dalam hal pertemanan, pekerjaan dan lain sebagainya). Bila tidak diperjuangkan, tidak akan dapat apa-apa.

Maka, semoga saja Kimi bisa berjuang melawan rasa sedihnya hari ini, seperti halnya Dewi yang sedang melawan gundah gulana yang kembali menjadi teman baiknya akhir-akhir ini.

Saturday, May 28, 2005

Bola Gelinding


Gelinding Bola Coca-Cola Posted by Hello

Foto ini diambil oleh Mas Dadang dari Reuters, pada acara gelinding bola Coca-Cola 13 Maret 2005. Inilah hebatnya sebuah cara berdagang kapitalis besar yang telah eksis di dunia lebih dari 100 tahun dan di Indonesia, lebih dari 70 tahun. Siapa yang tidak kenal Coca-Cola? Namun, namanya juga manusia, tetap perlu penyegaran.

Ribuan orang berkumpul di bundaran HI waktu itu, mengoper bola dan menggelindingkan bola raksasa. Event seru yang membuat jutaan rupiah, hanya demi sebuah penyegaran dan eksistensi bisnis. Ironically, I'm part of them :P

Hey, dunia dibangun dari ironi dan paradoks.

Bangsa yang dibesarkan mitos

...orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...

Bangsa ini dibesarkan dengan mitos-mitos. Mitos bahwa kita bangsa yang besar, dengan beribu-ribu pulau yang tersebar dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke. Mitos bahwa kita adalah negara yang kaya, kaya dengan sumber daya alam (minyak bumi, emas, batu bara, nikel, timah, dsb), kaya dengan keanekaragaman hayati. Mitos bahwa nenek moyang kita adalah pelaut ulung (nenek moyangku seorang pelaut, mengarung bumi belah samudra, mengejar ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa), berlayar sampai Tanjung Harapan. Tumbuh dengan mitos zaman Majapahit, ketika Hayam Muruk dan Gajah Mada berhasil menyatukan Indonesia (Filipina dan Singapore masih wilayah Indonesia, waktu itu). Dan yang paling hebat, mitos bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, bangsa yang senang bergotong royong, bangsa dengan toleransi yang tinggi.

Mitos..
Dibuai sedari kecil, lewat sosialisasi primer dalam keluarga, pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah, pidato-pidato para pejabat pada perayaan hari-hari nasional, dan yang pasti, cuci otak ala Soeharto selama lebih dari 30 tahun.

Terbiasa hidup enak, tak mau kerja keras dan menjadikan uang sebagai cara mendapatkan banyak hal.
Karena tanah kita tanah yang subur, tak perlu dipupuk tak perlu dirawat toh padi bisa tumbuh dengan sempurna (terbukti pada tahun 1983 kita mengekspor beras ke Ethiopia). Karena kita punya banyak sumber daya alam (lihat saja 1970 ketika minyak sedang bagus harganya, banyak pejabat Pertamina kaya mendadak) yang bisa menjamin hidup kita sampai tujuh turunan. Karena bangsa ini toleran terhadap banyak hal (juga terhadap korupsi, suap, main hakim sendiri).

Mitos.. membuat bodoh, membuat malas, membuat narciss.

Toh, ternyata kita belum jadi apa-apa.

Thursday, May 26, 2005

Siklus hidup bernama pernikahan

Ketika sebuah siklus hidup ditentukan oleh kontruksi masyarakat sakit dan bodoh..

Sebuah kepercayaan yang telah dihembuskan dari mulai kita lahir, bahwa siklus hidup manusia hanyalah lahir, besar, sekolah dari TK, lanjut ke SD, SMP, SMA, kuliah, bekerja, dan selanjutnya kawin. Hal ini, seperti layaknya kita percaya bahwa mentari terbit di timur dan tenggelam di barat, akhirnya mendarah daging dan menjadi sebuah keniscayaan. Padahal...

Siapa yang dari dulu mengharuskan pernikahan masuk ke dalam siklus hidup manusia? Dan kenapa, berhasil atau tidaknya orang-orang di Indonesia, salah satunya, dilihat dari sudah menikah atau belum. Tidak habis pikir. Apalagi perempuan. Kalau dia memilih tidak menikah, akan dicap yang tidak-tidak. Perawan tua lah, tidak laku lah, aneh lah, apapun. Padahal, seperti halnya menikah adalah pilihan, toh tidak menikah mestinya juga merupakan pilihan.

Hm, agak pusing memang. Repot jadi anaknya orang Indonesia. Ketika kita menyampaikan kepada orang tua bahwa kita belum mau atau tidak mau menikah, apalagi ketika dirasa umur sudah cukup. Kita akan dianggap pembangkang atau malah tidak normal. Karena memang, di Indonesia, anak adalah hasil investasi orang tuanya. Bukan hanya uang, tapi juga cinta, doa, peluh, darah, air mata, dan lain sebagainya.

Tak mungkin ganti orang tua. Mungkin harus belajar bagaimana caranya menyesuaikan diri lagi. Pelajaran seumur hidup :D


Tuesday, May 24, 2005

and the journey ends here

Sebuah kisah kembali terjadi, dalam kehidupan seorang Dewi, ketika orang-orang datang dan pergi. Sebagian tetap meninggalkan tawa dan kenangan manis ketika mengingatnya, namun tak sedikit yang juga meninggalkan air mata dan kenangan yang sama sekali tidak sama rasanya dengan gula. Kata seorang teman bernama Elpi, harapanku tidak akan tercapai 100%, namun kesedihanku pun tidak akan terjadi 100%, dunia akan berjalan apa adanya. Namun tetap saja, sedih bukanlah hal yang menyenangkan.

Aku kembali kehilangan, itu intinya. Kehilangan teman-teman dekatku, teman-teman yang selama ini aku pikir tidak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi. Meninggalkan bukan hanya secara fisik, tapi juga secara jiwa. Bumi memang berputar, waktu memang berjalan. Cinta, tentu saja akan berubah. Nonsense yang bilang bahwa cinta tidak akan pernah pudar. BULLSHIT! Cinta, sama seperti tanaman, jika tidak kau pupuk dan lupa kau siram, pasti juga mati. Dan itu yang terjadi.

Yah, mungkin itung-itung belajar sendiri. Nanti toh menghadap Tuhan juga begitu.

Tuesday, May 17, 2005

Midori Days


Seiji-Midori
Posted by Hello

Bagaimanakah rasanya berpisah? Bagaimanakah rasanya terpisah? Bagaimanakah rasanya dipisahkan? Entah apa yang ada di hati Seiji Sawamura yang ketika bangun tidur tidak lagi mendapati Midori Kasugano, gadis yang menjadi tangan kanannya (secara harafiah), menghilang tiba-tiba. Tanpa sebab, tanpa kabar, meninggalkan sebuah tanda berupa syal bertuliskan “LOVE” yang baru saja selesai disulam.

Pada awalnya, Seiji, pemuda 17 tahun yang masih duduk di bangku SMA ini merasa dia tidak segitunya merasa kehilangan. Namun, makin lama, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, ternyata. Belum genaplah satu hari, Seiji ternyata sudah kembali pada kebiasaan lamanya, berkelahi dengan musuhnya. Berjalan bersama teman segank lamanya, sekelompok pemuda kembali menghadangnya di jalan. Namun, apakah Seiji takut? Tidak!! Dia malah balik menantang dan berkata, “Kebetulan, aku juga lagi kesal. Toh tangan kananku sudah kembali, dan hanya perlu itu untuk mengalahkan kalian”.

Perkelahian pun terjadi. Tidak terlalu jelas apakah Seiji menang atau tidak, yang jelas tangan kanannya luka-luka. Tidak mudah kehilangan Midori, akhirnya Seiji menyadari itu. Namun, bagaimanakah awalnya sehingga Midori Kasugano, gadis manis berambut hijau menjadi tangan kanan Seiji Sawamura?

Seiji yang dijuluki “Anjing Gila” adalah anak punk. [Sedikit itermezzo. Bicara Punk, tidak bisa lepas dari seorang yang pernah ada di hati, Endy Apriyugo. Punk adalah tentang anti kemapanan, tidak mau ikut dengan aturan yang ada. Dengan kata lain, hidup dengan aturan-aturannya sendiri]. Tangan kanan Seiji adalah hal yang paling ditakutkan oleh anak-anak lainnya, karena terkenal kuat. Bahkan katanya, tembok semen pun bisa jebol, apalagi kok hanya sekumpulan gank anak muda?? Namun, tangan kanan yang kuat bukan jaminan bahwa dia juga mudah memperoleh teman perempuan (baca: pacar).

Pernah sesekali Seiji berpikir. Asik sekali bila pacarku nanti bisa menjadi tangan kananku. Di lain pihak, Midori Kasugano, yang telah memendam rasa selama hampir tiga tahun kepada Seiji juga masih mempunyai mimpi menjadi bagian dari Seiji, entah apa bentuknya. Dan BANG!!! Keingingan mereka terkabul. Seiji mendapati tangan kanannya kini adalah Midori dan Midori pada akhirnya adalah bagian dari Seiji (secara harfiah). Jadi ingat frase yang selalu diulang orang-orang, be careful of what you wish it may come true.

Hari-harinya yang penuh dengan perkelahian yang seringkali berakhir dengan kemenangan tampaknya segera berakhir. Namun, Seiji pasti tidak mengira akan banyak pengalamam baru yang terjadi ketika tangan kanannya adalah Midori, yang secara bentuk memang kecil, namun dia tetaplah seorang manusia, seorang gadis dengan segenap keutuhannya.

Hari demi hari, dilalui dengan senyum dan tawa. Terkadang ada perbedaan pendapat, namun makin lama terlihat bahwa Seiji dan Midori adalah perpaduan yang indah. Seiji yang preman dan semaunya sendiri dengan Midori, gadis lembut manis dan baik hati. Toh Midori memang membawa kebaikan bagi Seiji. Dia sekarang menjadi lebih baik dalam bertingkah laku. Tidak sering bolos, apalagi kok berkelahi. Seiji pun memperlakukan Midori dengan baik, ketika Midori sakit, dengan senang hati Seiji merawatnya.

Seiji tidak tahu, bukan hanya Midori yang selama ini memendam rasa kepadanya. Adalah Ayase, teman Seiji satu kelas di SMA. Dia adalah gadis yang cukup manis, namun Seiji tidak pernah meliriknya barang sejenak. Apalagi, semenjak Midori mengisi hari-harinya dengan tawa dan bahagia. Ketika Seiji kehilangan Midori, Ayase pun mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.

Toh pada akhirnya, Midori berhasil mengatakan pada Seiji apa yang menjadi perasaannya. Dan Seiji, si muka garang itu pun merasa yang sama.
Hm.. Dalam The Wedding Date, seorang tokoh pernah berkata, tatangan bagi pencinta adalah bagaimana membuat yang dicinta juga bisa mencinta. Cinta katamu? Ah, dia hanya milik surga. Iya, surga.

Wednesday, May 11, 2005

DewiDeu

DewiDeU
Aku terlahir dengan nama Dewi. Untuk kepentingan pribadi, aku tidak akan menulis nama lengkapku. Hanya saja, ibuku terlanjur jatuh cinta dengan nama ini, sehingga, karena aku anak pertama aku pun dinamakan Dewi. Just a very common name, but I do love that. Dengan nama lengkap yang ada, toh aku tetap memilih dipanggil Dewi, yang berarti perempuan.
Lalu, dari mana asalnya
Deu? Nama ini diberikan secara khusus oleh 'adek' perempuanku di SMA dulu, Putu. Tentu saja, common name banyak dipakai orang. Begitu pula daku. Jadi, untuk membedakan aku dengan Dewi Dewi lainnya, aku dipanggil Deu=Dewi Uireng :P Aku memang tidak putih, jadi terima saja :) Toh pada akhirnya, nama ini membahana di mana-mana, menjadi sebuah identitas diri, bahwa aku adalah DewiDeu.
Menulis adalah salah satu hobiku. Maka, terimakasih bila sudi mampir dan menengak-nengok. Mampir juga ke
blogku yang lain. Enjoy