Wednesday, February 14, 2007

The forces of nature

8 Februari 2007

Nature, to be commanded, must be obeyed.
(Alam, untuk diperintah, harus ditaati)
Francis Bacon


Sebuah opini di Kompas, 6 Februari 2007 milik YF La Kahija (Merefleksikan Alam di Kala Bencana) yang memuat kutipan di atas membuat saya terhenyak. Ternyata untuk bekerja sama dengan alam, kita harus mentaati hukumnya. Melanggar hukum alam, berarti memusuhinya. Memusuhinya, berarti bunuh diri, karena manusia jelas-jelas bergantung kepada alam untuk dapat bertahan hidup.


Mari bicara dalam konteks Indonesia saja. Alam memang tampak sedang mengamuk. Sejak Desember 2004, alam tampaknya belum “jinak” juga sampai sekarang. Bencana seakan tidak berhenti. Yang berhasil saya ingat adalah tsunami yang menghantam Aceh 26 Desember 2004. Dilanjutkan gempa bumi yang menguncang Nias. Lalu tsunami Pangandaran, gempa bumi yang meluluhlantakkan Yogyakarta, lumpur Lapindo Brantas, longsor di Mandailing Natal, dan banjir di Tamiang, Aceh Tengah. Yang terakhir adalah banjir yang sedang terjadi di beberapa daerah Indonesia, termasuk ibukota.

Indonesia adalah area yang rawan bencana, akibat letaknya yang konon “strategis” di antara dua benua (Asia dan Australia), dua samudra (Hindia dan Pasifik) dan juga dua lempeng bumi yang sangat aktif. Seringkali, kita terbuati dengan kata strategis, tanpa tahu lebih lanjut apa akibat dari lokasi ini, terutama untuk alam. Pelajaran geografi tidak pernah mendapat tempat yang layak di jenjang-jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. Mungkin bisa dibuktikan ke anak-anak SD sekarang ini, seberapa seringnya mereka belajar geografi yang bukan hanya menghafal nama-nama gunung di Indonesia.

Selain minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia, kesadaran yang rendah untuk hidup bersama-sama alam juga masih sangat rendah. Jakarta misalnya, yang setiap tahun selalu langganan banjir dan setiap lima tahun hampir selalu kena banjir bandang. Lihatlah mereka yang memilih daerah aliran sungai (DAS) untuk tempat tinggal. Mereka membangun rumah-rumah seadanya, menempati aliran sungai yang seyogyanya harus bebas mengalir. Orang-orang juga seringkali masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Alih-alih membangun gorong-gorong dan drainase yang memadai, juga taman-taman kota untuk penyerapan air, Pemda Jakarta tampaknya lebih senang membangun sarana&prasarana di atas tanah seperti mal (perlu diketahui: pada zaman Sutiyoso, pembangunan mal mencapai 20 kali lipat dibanding pada masa gubernur sebelumnya), gedung perkantoran, busway, real-estate, dan yang paling baru, monoreal. Izin pembangunan sangat mudah diberikan, padahal, tanpa draisnase yang memadai, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Belum lagi soal sampah, masyarakat Jakarta belum mengenal pemisahan sampah organik dan an-organik, juga pengolahannya yang efektif. Padahal di Austria sana, sampah diolah menjadi sumber pembangkit listrik. Saya yakin, hal ini bisa saja dilakukan di Indonesia.

Hal di atas adalah hanya sekelumit contoh ketidakmauan msyarkat untuk belajar memahami alam. Alam pasti memberi banyak, bila manusia belajar bagaimana mematuhinya. Bila manusia tidak mau belajar, kehancuran alam pasti akan semakin cepat.

1 comment:

Nurisah said...

Saya sambut gembira ajakan temanku Dewi, siapa lagi yg mau jaga alam ini, cuma kita kan? manusia. Ga mungkin kita ajak kerbau dan sapi dkk.
From me..Ade Cirebon
http://nur-isa.blogspot.com